esok belum pasti aku 'kan perlu bernyanyi

Senin, 12 Agustus 2019


Hari ini kita hidup pada masa di mana kekuasaan berada pada media sosial dan validitas atas suatu informasi ditentukan oleh "how it feels", bukan "how it is" (istilah ini digunakan oleh Berthon & Pitt untuk menjelaskan perasaan atau emosi atas sesuatu lebih sering digunakan daripada kenyataan atas sesuatu). Fenomena ini dikenal dengan istilah "truthiness", dunia bekerja sesuai dengan yang engkau harapkan, tidak lagi objektif seperti mesin.
Masyarakat (khususnya, netizen) mudah sekali percaya (bahkan bisa langsung percaya!) pada informasi apapun yang beredar di media sosial. Orang sangat malas membuktikan validitas informasi sehingga mereka semakin mudah ditipu. Sesuatu yang viral seolah adalah informasi yang benar. Termasuk pesan berantai di grup whatsapp yang mudah sekali dipercaya para orang tua yang suka membagikan ke grup lain tanpa menguji validitasnya terlebih dahulu.
Di Indonesia, selain isu agama yang sangat sensitif dan cepat menyebar adalah isu politik dan prostitusi. Kubu politik yang berseberangan tinggal memainkan isu di media sosial, berita baik tentang kubu sendiri dan sebaliknya untuk kubu lawan. Begitu juga kasus prostitusi, bisa langsung menyulut emosi masyarakat. Masyarakat sangat mudah terpancing emosinya daripada akalnya. Hal ini membuktikan bahwa masyarakat hari ini memang tidak seimbang dalam menggunakan emosi dan akalnya. Masyarakat kita berada dalam kekacauan di media sosial.
Apa dampak kondisi sosial ini terhadap industri musik? Akibat kondisi masyarakat berada di bawah kekuasaan media sosial, musisi akan dianggap baik dan sukses jika memiliki banyak followers. Kesuksesan suatu album musik dinilai dari banyaknya penjualan album baik fisik maupun digital. Bagus atau jeleknya suatu karya musik dinilai dari banyaknya likes dan komentar positif yang diberikan. Kekuasaan media sosial seolah-olah menjadi kurator musik yang menuntut musisi untuk tampil dengan citra palsu yang disukai oleh para penggemar.
 Mengapa fenomena ini bisa terjadi? Baiklah kita bahas secara singkat perkembangan masyarakat dari modern menjadi pasca-modern, karena kita tidak bisa langsung menyalahkan media sosial.
Newton adalah salah satu ilmuwan yang turut memberikan sumbangan dalam melahirkan sains modern, membuat masyarakat modern melihat dunia secara lebih objektif. Perspektif masyarakat bergeser dari lokal menjadi universal. Seperti hukum gravitasi (hukum alam) yang bersifat universal, mestinya juga ada hukum hak asasi manusia yang bersifat universal, maka lahirlah hukum-hukum seperti gender, kelas, dan lain-lain. Tujuan sains modern adalah kebenaran objektif.
Namun, jika kebenaran bersifat objektif, bagaimana dengan hal-hal seperti nilai-nilai, keindahan, dan seterusnya? Jika semua kebenaran bersifat objektif, dunia ini akan hampa makna, bukan? Atas dasar itulah para pemikir pasca-modern (misalnya Bourdieu) secara garis besar mengatakan bahwa tidak ada kebenaran yang objektif.
Salah satu pemikir pasca-modern, Foucault, pemikirannya yang terkenal (Power and Knowledge) mengatakan bahwa di balik setiap klaim kebenaran terdapat kekuasaan yang memiliki otoritas untuk memaksakan kebenaran menurut otoritas tersebut agar dipercaya oleh yang lain. Sehingga menurut Foucault kekuasaanlah yang lebih menentukan yang mana yang benar daripada objektivitas dan rasionalitas.
Inilah kondisi hari ini, kondisi di mana media sosial berkuasa, kebenaran yang diproduksi oleh misalnya akun-akun gosip atau akun tokoh publik menjadi kebenaran yang seolah harus masyarakat yakini juga. Sesuatu yang viral adalah kebenaran yang harus diterima oleh masyarakat. Di kolom komentar (instagram, misalnya) semua orang dapat berkomentar dan mampu memberi penilaian hanya dengan modal perasaan (bukan otak!), bahkan meskipun informasi yang disajikan adalah berita palsu.
Kondisi masyarakat pasca-modern yang lebih mengutamakan "how it feels" daripada "how it is" ini membuat para pengiklan harus membuat slogan hiperbola atas produknya. Minuman tidak lagi menghilangkan rasa hausmu, melainkan memberimu kebahagiaan. Makanan tidak lagi membuatmu kenyang, melainkan membuatmu keren. Buku tidak lagi untuk mengisi otakmu, melainkan untuk mengisi feed instagrammu.
Kepalsuan di balik slogan atau iklan memang sudah lama menjadi cara kerja pemasaran. Sudah sejak lama merk-merk dibangun untuk lebih memuaskan emosi daripada rasionalitas. Sehingga citra yang dibangun oleh sebuah merk tidak mesti sesuai dengan kenyataan objektif suatu produk.
Para musisi yang bebeberapa tahun belakangan ini berbondong-bondong meninggalkan (atau berhenti ingin masuk) major label, mulai melek bisnis dan mengelola bisnis musiknya sendiri. Mereka belajar bagaimana cara membangun dirinya sebagai sebuah merk yang layak jual dalam industri. Mereka menciptakan pasar mereka sendiri.
Sayangnya, pada hari di mana media sosial berkuasa ini, musisi turut mengambil peran dalam menggunakan cara kerja pemasaran dari perspektif pasca-modern. Lagu protes dan perlawanan dinyanyikan tidak lagi untuk memberontak, melainkan untuk mengekspansi pasar karena "radikal itu menjual" (meminjam judul buku Heath & Potter).
Di akun instagramnya, para musisi membangun kepribadian palsu. Mereka bersuara soal lingkungan bukan karena cinta lingkungan tapi untuk membangun citra yang baik. Mereka bersuara soal lingkungan dengan membuat festival di hutan pinus karena itu keren dan banyak peminatnya, berbau alam dan anti-mainstream.
Menanggapi fenomena “truthiness” ini, beberapa penelitian di bidang pemasaran (misalnya Berthon & Pitt dalam artikelnya yang berjudul “Brand, Truthiness and Post-Fact: Managing Brands in a Post-Rational World”) memberi tawaran solusi untuk kembali menggunakan perspektif modern dalam beberapa hal. Menurut mereka, merk seharusnya merupakan refleksi atas kenyataan produk. Dibangun dengan kerja keras, bukan dengan kepalsuan. Selain itu, merk sebaiknya dipandang sebagai proses, bukan sebagai objek. Sebagai proses, merk akan dinamis dari waktu ke waktu karena digerakkan oleh kenyataan kualitas yang ditawarkan.
Akhirnya, kesimpulan kita, apakah musisi masih perlu membangun citra palsu hanya demi memuaskan para penggemarnya? Atau haruskah musisi berproses untuk memiliki kualitas baik daripada membangun citra baik dari kepalsuan? Ataukah musisi saat ini memang memandang jumlah followers atau likes sebagai suatu standar estetika baru?

Sabtu, 17 November 2018

,

Musikalisasi Puisi?

Jika yang dimaksud dengan musikalisasi puisi – atau musik puisi – adalah membuat puisi menjadi lagu, atau membuat suatu musik dengan bahan pokok puisi, berarti hampir semua musik dan lagu dapat dikatakan sebagai musikalisasi puisi, bukan? Istilah musikalisasi puisi atau musik puisi atau lagu puisi sampai saat ini tidak berhasil didefinisikan atau setidaknya disepakati unsur-unsurnya karena penggunaan istilah ini memang terkesan dipaksakan.
Sepertinya istilah musikalisasi puisi muncul sebagai pemitosan terhadap upaya kerja penggabungan musik dan puisi sehingga terlihat sebagai suatu pencapaian baru dalam kebudayaan, padahal kerja penggabungan musik dan puisi telah ada sejak lama. Bahkan di beberapa kesenian tradisi, musik dan puisi merupakan suatu hal yang tidak terpisahkan. Di Timur Tengah syair-syair biasa dibawakan dengan cara dinyanyikan atau dilantunkan. Di Indonesia lebih beragam lagi bentuknya, misalnya di Lombok ada pepaosan yaitu menyanyikan atau menembangkan naskah lontar, di Jawa dikenal sebagai macapatan.
Kerja penggabungan atau transformasi musik dan puisi ini juga eksis pada selain kesenian tradisi, misalnya pada tahun 1890 Debussy menggubah sebuah musik yang terinspirasi dari puisi karya Paul Verlaine yang berjudul ‘Clair de Lune’. Pada tahun 1960 Slamet Abdul Sjukur juga pernah membuat musik dari sajak Sugiarto Sriwibowo yang berjudul ‘Kabut’. Pada tahun 1969 Yoko Ono dan John Lennon merilis album musik bertajuk ‘Wedding Album’ yang di dalamnya terdapat sebuah lagu yang menyanyikan puisi juga yaitu karya Christina Rossetti yang berjudul ‘Who Has Seen The Wind’. Beberapa contoh ini membuktikan bahwa karya musik yang dibuat berdasarkan puisi, bukanlah suatu hal yang baru karena sudah lazim dilakukan di seluruh dunia. Anehnya hanya di Indonesia istilah musikalisasi puisi muncul seperti mitos, khususnya di kalangan praktisi non-akademisi musik.
Menurut Hamdy Salad, lewat bukunya ‘Panduan Wacana & Apresiasi Musikalisasi Puisi’ (2015), istilah musikalisasi puisi muncul pertama kali pada awal tahun 1970 ketika Deded Er Moerad membuat lagu dari puisi karya Umbu Landu Paranggi yang berjudul ‘Sabana dan Marumba Sareta’. Kemudian istilah ini semakin sering digunakan untuk karya-karya musik berikutnya yang dibuat berdasarkan puisi, seperti album Reda Gaudiamo tahun 1990 yang bertajuk ‘Hujan Bulan Juni’ yang dibuat dari puisi-puisi karya Sapardi Djoko Damono. Juga album Tan Lioe Ie tahun 2000 yang bertajuk ‘Kuda Putih’ yang berisi puisi-puisi karya Umbu Landu Paranggi.
Selain Hamdy Salad, banyak tokoh penyair/sastrawan maupun praktisi musik yang mencoba menulis tentang musikalisasi puisi yang kemudian diterbitkan dalam sebuah buku (berupa bunga rampai) yaitu ‘Musik Puisi Dari Istilah Ke Aksi’ (2005). Di dalamnya, Sapto Raharjo juga mengungkapkan hal serupa dengan Hamdy Salad terkait sejarah musikalisasi puisi di Indonesia. Awalnya poetry singing sering digarap oleh kelompok PSK (Persada Studi Klub) dengan membawakan puisi karya Umbu Landu Paranggi. Konsep pertunjukan dari kelompok PSK ini kemudian meluas ke para pegiat teater di sekitar tahun 1970 dan dikenal dengan istilah musik puisi.
Serupa juga dengan yang diungkapkan Iman Budhi Santosa dalam buku tersebut. Musik puisi lahir sekitar tahun 1960-1970 di Yogyakarta sebagai upaya untuk mengatasi kebosanan atau kejenuhan dalam menyaksikan pertunjukan baca puisi yang konvensional.
Setelah menjadi populer, istilah ini menjadi perdebatan tiada ujung. Banyak kemudian upaya yang dilakukan oleh para penyair, sastrawan, praktisi musik, maupun pegiat teater (sayangnya hampir tidak ada dari kalangan akademisi musik) untuk merumuskan apa yang dimaksud dengan musikalisasi puisi. Setidaknya dua buku yang disebut di atas telah melakukan hal ini. Hamdy Salad mencoba menjelaskan musikalisasi puisi sebagai “segala bentuk dan jenis karya musik yang digubah, dibuat, disusun berdasarkan teks puisi yang ditulis oleh penyair sebagai karya sastra dan telah dipublikasikan melalui media massa”. Tentu saja definisi ini mengandung bias. Pertama, media massa yang seperti apa yang dimaksud? Kedua, mana yang termasuk teks puisi yang ditulis oleh penyair dan sebagai karya sastra? Pada bias semacam inilah definisi yang dirumuskan oleh Hamdy Salad mengalami kegagalan. Bagaimana dengan lagu-lagu Bob Dylan yang tidak pernah diklaim sebagai musikalisasi puisi, tapi mendapatkan penghargaan nobel sastra?
Untuk membedakan musikalisasi puisi dari lagu, Hamdy Salad mengatakan bahwa lagu/nyanyian berawal dari komposer kemudian lirik lagu. Musikalisasi puisi berawal dari teks puisi kemudian komposisi musik. Perbedaan ini pun tidak berhasil dijelaskannya, karena kita tidak bisa menilai mana yang lebih dulu dibuat dalam sebuah lagu (musiknya atau liriknya) kecuali dari pengakuan pembuatnya sendiri, yang bisa saja mengandung bias. Tapi tampaknya dia memilih untuk mengabaikan kerancuan istilah-istilah ini dan melanjutkan penjabarannya. Dia kemudian membagi ragam ekspresi musikalisasi puisi menjadi: (1) Instrumentalisasi Puisi, model pembacaan puisi yang diiringi musik; (2) Laguisasi Puisi, menyanyikan puisi tanpa iringan musik; (3) Metalisasi Puisi, jenis lagu musik metal yang digarap berdasarkan teks sastra karya penyair terkenal; (4) Orkestrasi Puisi, transformasi total teks puisi menjadi komposisi musik; (5) Digitalisasi Puisi, memadukan unsur puisi dan bunyi melalui sistem komputer dan alat elektronik. Istilah-istilah ragam musikalisasi puisi ini justru semakin tidak bisa kita terima begitu saja karena muncul tiba-tiba secara ajaib tanpa kajian yang memadai.
Kemudian Tan Lioe Ie, dalam buku ‘Musik Puisi Dari Istilah Ke Aksi’ (2005), mencoba mendefinisikan musikalisasi puisi sebagai “sebuah upaya untuk menerjemahkan musikalitas puisi ke dalam musik”, kemudian membaginya menjadi: (1) Transformasi total, seluruh puisi menjadi instrumental; dan (2) Transformasi sebagian, kata-kata dalam puisi masih utuh. Pengertian ini bertabrakan misalnya dengan pendapat Japhens Wisnudjati yang mengatakan bahwa musikalisasi puisi adalah proses perpindahan dari puisi menuju musik. Berbeda dengan musik puisi yang berarti musik yang merantau ke wilayah puisi yang hanya terpuaskan di jenis musik kontemporer. Berbeda juga dengan lagu puisi seperti yang dilakukan Ebiet G. Ade dalam lagu-lagunya. Bukankah pengertian Japhens Wisnudjati tentang lagu puisi sama dengan transformasi sebagian yang dimaksud Tan Lioe Ie?
Sementara penulis lain lagi dalam buku tersebut, Sapto Raharjo, menyebut macam-macam musik puisi seperti : (1) Puisi yang syairnya dijadikan lagu; (2) Musik yang dibuatkan puisi untuk menjadi syairnya. Dari dua macam musik puisi yang disebut ini saja – jika kita setuju – dapat kita katakan bahwa semua karya musik adalah musik puisi, karena kita tidak dapat membedakannya dari musik/lagu biasa. Selain itu, bukankah yang dimengerti sebagai musik puisi oleh Sapto Raharjo ini berbeda dengan yang dimaksud Japhens Wisnudjati? Bukankah yang dimaksud dengan musik puisi oleh Sapto Raharjo sama dengan yang dimaksud dengan musikalisasi puisi transformasi sebagian oleh Tan Lioe Ie? Bagaimana jika semua pengertian ini kita bandingkan lagi dengan pendapat Hamdy Salad? Tentu akan membuat kita semakin bingung.
Memang hampir semua tokoh yang mencoba menulis tentang musikalisasi puisi menyatakan bahwa pengertian yang dirumuskannya masih sangat terbuka dengan kemungkinan baru atau perbedaan pendapat. Hal ini mengindikasikan bahwa perdebatan terkait istilah musikalisasi puisi memang perlu dilengkapi dengan kajian yang dilakukan menggunakan metodologi akademik yang lebih tepat, yang tidak hanya dilakukan oleh para akademisi sastra, tapi juga melibatkan para akademisi musik.
Proses kreatif atau upaya kerja penggabungan/transformasi musik dan puisi bukanlah suatu fenomena yang segar karena telah dilakukan sejak lama di seluruh dunia, sekali lagi, bukan merupakan hal yang baru. Tapi tiba-tiba klaim musikalisasi puisi pada suatu karya musik menjadi populer di Indonesia dan seolah terlihat sebagai suatu bentuk pencapaian baru.
Kita telah membuktikan bahwa dari beberapa pengertian musikalisasi yang dirumuskan oleh para penulis, kita masih tidak bisa membedakan antara musikalisasi puisi dengan lagu biasa, atau membedakan antara musik puisi dengan komposisi biasa, atau membedakan antara musikalisasi puisi dengan musik puisi. Jadi, apakah kita memerlukan penggunaan istilah atau klaim musikalisasi puisi terhadap suatu karya musik? Atau dalam dunia praktik, istilah bukanlah merupakan hal yang penting? Atau justru penting agar suatu karya musik punya semacam “merk” sehingga lebih potensial untuk “dijual”?

Kamis, 11 Oktober 2018


Diterjemahkan oleh Han Farhani dari Bahasa Inggris terjemahan Arthur Goldhammer

Pada tanggal 16 Agustus 2012, polisi Afrika Selatan turut campur dalam konflik buruh antara para pekerja di tambang platinum Marikana di dekat Johannesburg dan pemilik tambang: para pemegang saham Lonmin, Inc., yang berbasis di London. Polisi menembaki para pendemo dengan amunisi hidup. 34 penambang tewas. Seperti yang sering terjadi pada aksi pemogokan semacam ini, konflik terutama terkait dengan upah: para penambang meminta upah mereka dinaikkan dari 500 menjadi 1.000 euro per bulan. Setelah memakan korban jiwa yang tragis, perusahaan akhirnya mengajukan kenaikan per bulan sebesar 75 euro.
Episode ini mengingatkan kita, jika memang perlu, pertanyaan atas bagian mana dari keluaran yang harus menjadi upah dan bagian mana yang menjadi keuntungan – dengan kata lain, bagaimana seharusnya pendapatan dari hasil produksi dibagi kepada buruh dan modal? – selalu menjadi pokok dari konflik distribusi. Dalam masyarakat tradisional, dasar dari kesenjangan sosial dan penyebab yang paling umum dari pemberontakan adalah konflik kepentingan antara tuan tanah dan petani, antara yang memiliki tanah dan yang mengolahnya dengan tenaga, yang menerima sewa tanah dan yang membayarnya. Revolusi Industri mempertajam konflik antara modal dan buruh, mungkin karena produksi menjadi lebih padat modal daripada sebelumnya (membuat penggunaan mesin dan eksploitasi sumber daya alam lebih banyak daripada sebelumnya) dan mungkin, juga, karena harapan untuk distribusi pendapatan yang lebih merata dan tatanan sosial yang lebih demokratis telah berkembang pesat. Saya akan kembali kepada poin ini.
Tragedi Marikana mengingatkan kembali pada contoh-contoh kekerasan sebelumnya. Di Haymarket Square di Chicago pada tanggal 1 Mei 1886 dan kemudian di Fourmies, di utara Prancis, pada tanggal 1 Mei 1891, polisi menembaki para pekerja yang melakukan aksi pemogokan untuk kenaikan upah. Apakah bentrok kekerasan antara buruh dan modal semacam ini merupakan bagian dari masa lalu, atau akankah ini menjadi bagian integral dalam sejarah abad 21?
Dua bagian pertama dalam buku ini akan fokus pada pembagian atas pendapatan global yang dibagi ke buruh dan modal dan bagaimana pembagian tersebut berubah sejak abad 18. Untuk sementara saya akan mengesampingkan isu kesenjangan pendapatan antara para pekerja (sebagai contoh, antara pekerja biasa, teknisi, dan manajer pabrik) dan antara para pemodal (sebagai contoh, antara para pemegang saham atau tuan tanah kecil, sedang, dan besar) sampai Bagian Tiga. Jelasnya, masing-masing dari dua dimensi distribusi kekayaan – distribusi “factorial” di mana buruh dan modal diperlakukan sebagai “faktor produksi”, dipandang secara abstrak sebagai entitas homogen, dan distribusi “individual”, yang memperhitungkan kesenjangan pendapatan dari buruh dan modal pada level individu – dalam praktiknya, pada dasarnya merupakan hal yang penting. Tidak mungkin untuk mencapai pemahaman atas permasalahan distribusi tanpa menganalisis keduanya.
Bagaimanapun, para penambang Marikana yang mogok tidak hanya menentang apa yang diambil sebagai keuntungan Lonmin yang berlebihan tetapi juga menentang gaji yang diberikan kepada manajer tambang ternyata sangat besar dibandingkan dengan kompensasi mereka. Tentu saja, jika kepemilikan modal didistribusikan secara merata dan setiap pekerja menerima bagian yang sama atas keuntungan sebagai tambahan atas upahnya, sebenarnya tidak ada yang akan tertarik pada pembagian laba antara keuntungan dan upah. Jika pembagian modal-buruh menimbulkan begitu banyak konflik, itu adalah terutama karena pemusatan ekstrim atas kepemilikan modal. Kesenjangan kekayaan – dan akibat pendapatan dari modal – pada faktanya salalu lebih besar daripada kesenjangan pendapatan dari buruh. Saya akan menganalisis fenomena ini dan penyebabnya pada Bagian Tiga. Untuk sekarang, saya akan membahas kesenjangan pendapatan dari buruh dan modal kemudian fokus pada pembagian global atas pendapatan nasional antara modal dan buruh.
Jelasnya, tujuan saya bukan untuk membela kasus para pekerja melawan para pemilik tetapi untuk memperjelas sejelas mungkin pandangan realita. Secara simbolik, kesenjangan modal dan buruh adalah isu yang menimbulkan emosi yang kuat. Ini berbenturan dengan gagasan yang dipegang secara luas, dan sangat sulit dipercaya jika ini terkadang mengarah kepada kekerasan fisik. Bagi mereka yang tidak memiliki apa-apa selain tenaga mereka dan yang seringkali hidup sederhana (untuk tidak mengatakan kondisi yang buruk pada kasus para petani abad 18 atau para penambang Marikana), sangat sulit untuk menerima bahwa pemilik modal – beberapa yang diwarisi setidaknya bagian dari kekayaan mereka – dapat begitu banyak dari kekayaan yang diproduksi oleh tenaga mereka. Pembagian modal bisa cukup besar: seringkali sebesar seperempat dari total keluaran dan kadang-kadang setengah dari sektor padat modal seperti tambang, atau bahkan lebih di mana monopoli lokal memperbolehkan pemilik modal untuk meminta bahkan bagian yang lebih besar.
Tentu saja, siapapun juga dapat memahami bahwa jika seluruh laba perusahaan dari keluarannya digunakan untuk membayar upah dan tidak mengambil keuntungan, mungkin akan menjadi sulit untuk menarik modal yang dibutuhkan untuk investasi keuangan baru, setidaknya seperti pengorganisasian ekonomi kita saat ini (sudah pasti, dapat dibayangkan bentuk organisasi lainnya). Selanjutnya, tidak perlu menyangkal remunerasi bagi yang memilih untuk menabung lebih dari yang lain – dengan asumsi, tentu saja, perbedaan tabungan merupakan alasan penting atas kesenjangan kekayaan. Mengingat, juga, bahwa porsi atas apa yang disebut “pendapatan modal” bisa jadi remunerasi untuk buruh “kewirausahaan”, dan seharusnya tidak diragukan bahwa ini diperlakukan seperti kita memperlakukan bentuk lain dari buruh. Argumen klasik ini patut untuk dicermati. Dengan memperhitungkan semua elemen ini, bagaimanakah batas yang “benar” antara modal dan buruh? Dapatkah kita meyakini bahwa ekonomi yang berbasis pada “pasar bebas” dan kekayaan pribadi selalu dan di mana pun mengarah pada pembagian yang optimal, seperti sulap? Pada masyarakat ideal, bagaimana pembagian antara modal dan buruh akan diatur? Bagaimana seharusnya berpikir tentang masalah ini?

Batas Modal-Buruh dalam Jangka Panjang: Tidak Begitu Stabil
Jika studi ini membuat sedikit kemajuan atas pertanyaan-pertanyaan di atas dan setidaknya mengklarifikasi perdebatan yang tampaknya tidak ada habisnya, akan sangat berguna jika memulainya dengan mempertimbangkan beberapa fakta sebisa mungkin dengan akurat dan hati-hati. Apa yang benar-benar kita ketahui tentang evolusi dari batas modal-buruh sejak abad 18? Untuk waktu yang lama, gagasan yang diterima oleh para ekonom dan yang diulang-ulang di buku teks tanpa dikritisi adalah pembagian relatif atas buruh dan modal pada pendapatan nasional yang cukup stabil dalam jangka panjang, dengan gambaran yang diterima secara umum sebesar dua pertiga untuk buruh dan sepertiga untuk modal. Saat ini, dengan perspektif sejarah yang lebih luas dan ketersediaan data baru, jelas bahwa kenyataannya sedikit lebih kompleks.
Untuk suatu alasam, batas modal-buruh secara luas bervariasi pada abad 21. Perubahan yang diamati pada abad 19, yang sudah saya singgung di Pendahuluan (peningkatan pada pembagian modal pada setengah abad ini diikuti oleh penurunan yang tipis dan kemudian periode stabilitas), tampak lebih mudah dengan perbandingan. Singkatnya, guncangan yang menerpa ekonomi pada periode 1914-1945-Perang Dunia I, Revolusi Bolshevik pada tahun 1917, the Great Depression, Perang Dunia II, dan akibat munculnya regulasi dan kebijakan pajak baru bersamaan dengan pengendalian modal – mengurangi pembagian modal atas pendapatan ke tingkat rendah secara historis pada tahun 1950. Meskipun demikian, secepatnya modal mulai menyusun kembali dirinya sendiri. Pertumbuhan pembagian modal dipercepat dengan kemenangan Margaret Thatcher di Inggris pada tahun 1979 dan Ronald Reagan di Amerika Serikat pada tahun 1980, yang menandai permulaan revolusi konservatif. Kemudian keruntuhan blok Soviet pada tahun 1989, diikuti globalisasi dan deregulasi keuangan pada tahun 1990. Semua peristiwa ini menandai perubahan politik ke arah yang berlawanan dari yang diamati pada pertengahan abad 20. Pada tahun 2010, terlepas dari krisis yang dimulai pada tahun 2007-2008, modal menjadi menguntungkan karena belum pernah terjadi sejak tahun 1913. Tidak semua konsekuensi atas kesejahteraan baru bagi modal ini negatif; sampai batas tertentu hal ini bersifat alami dan merupakan perkembangan yang diinginkan. Tetapi hal ini telah mengubah cara kita melihat batas modal-buruh sejak awal abad 21, serta pandangan kita tentang perubahan yang akan terjadi pada dekade-dekade mendatang.
Selanjutnya, jika kita melihat di luar abad 20 dan mengambil pandangan jangka panjang, ide atas batas stabil modal-buruh entah bagaimana harus menghadapi fakta bahwa sifat modal itu sendiri telah berubah secara radikal (dari tanah dan real estate lainnya pada abad 18 menjadi modal industrial dan finansial di abad 21). Juga ada gagasan, tersebar di antara para ekonom, bahwa pertumbuhan ekonomi modern sangat tergantung pada peningkatan “modal manusia”. Sekilas, hal ini terlihat menyiratkan bahwa buruh seharusnya mengklaim pertumbuhan pembagian pendapatan nasional. Memang ditemukan bahwa mungkin ada kecenderungan bagian buruh meningkat dalam jangka panjang, tetapi keuntungannya relatif sedikit: pembagian modal (tidak termasuk modal manusia) pada dekade awal abad 21 hanya sedikit lebih kecil dari awal abad 19. Pentingnya modal di negara kaya saat ini terutama karena lambatnya pertumbuhan demografis dan produktivitas, ditambah dengan rezim politik yang mendapat keuntungan dari modal privat.
Cara yang paling baik untuk memahami perubahan ini adalah dengan menganalisis evolusi rasio modal/pendapatan (yaitu, rasio dari total modal saham dibagi arus pendapatan tahunan) lebih bagus daripada fokus secara eksplisit pada batas modal-buruh (yaitu, pembagian pendapatan kepada modal dan buruh, secara respektif). Di masa lalu, para cendekia kebanyakan mempelajari yang terakhir, sebagian besar karena kurangnya data yang memadai untuk mempelajari hal selain itu.
Sebelum menyajikan hasil saya secara rinci, lebih baik diproses secara bertahap. Tujuan dari Bagian Satu pada buku ini adalah untuk mengenalkan konsep dasar tertentu. Pada sisa bab ini, saya akan mulai menyajikan konsep produk domestik dan pendapatan nasional, modal dan buruh, dan rasio modal/pendapatan. Kemudian saya akan melihat bagaimana distribusi global atas pendapatan berubah sejak Revolusi Industri. Pada Bab 2, saya akan menganalisis evolusi tingkat pertumbuhan secara umum dari waktu ke waktu. Hal ini akan memainkan peran sentral pada analisis selanjutnya.
Dengan pendahuluan ini, Bagian Dua mengambil dinamika rasio modal/pendapatan dan batas modal-buruh, sekali lagi diproses secara bertahap. Bab 3 akan melihat perubahan pada komposisi modal dan rasio modal/pendapatan sejak abad 18, dimulai dengan Inggris dan Prancis, sekitar data jangka panjang yang kita punya. Bab 4 mengenalkan kasus Jerman dan semua yang terlihat di Amerika Serikat, yang berfungsi sebagai komplemen yang berguna untuk prisma Eropa. Akhirnya, Bab 5 dan 6 mencoba untuk memperpanjang analisis pada semua negara kaya di dunia, dan sejauh mungkin, di seluruh planet. Saya juga mencoba untuk menggambarkan kesimpulan yang relevan dengan dinamika global atas rasio modal/pendapatan dan batas modal-buruh pada abad 21.

Gagasan Pendapatan Nasional
Akan sangat berguna jika dimulai dengan dengan konsep “pendapatan nasional”, di mana saya akan sering merujuk pada hal tersebut. Pendapatan nasional didefinisikan sebagai jumlah atas semua pendapatan yang tersedia atas penduduk suatu negara pada suatu tahun tertentu, terlepas dari klasifikasi legal atas pendapatan tersebut.
Pendapatan nasional dekat hubungannya dengan gagasan Produk Domestik Bruto (PDB), yang sering muncul di debat publik. Bagaimana pun, ada dua perbedaan penting antara PDB dan pendapatan nasional. PDB mengukur total barang dan jasa yang diproduksi pada suatu tahun tertentu dalam batas negara tertentu. Untuk menghitung pendapatan nasional, pertama PDB harus dikurangi depresiasi modal yang memungkinkan terjadinya produksi: dengan kata lain, harus mengurangi depresi pada bangunan, infrastruktur, mesin, kendaraan, komputer, dan barang-barang lain selama tahun yang bersangkutan. Depresiasi ini  bersifat substansial, saat ini sebesar 10 persen dari PDB di sebagian besar negara, dan ini tidak sesuai dengan penghasilan siapa pun: sebelum upah didistribusikan ke para pekerja atau deviden ke para pemegang saham, dan sebelum investasi baru benar-benar dibuat, modal yang usang harus diganti atau diperbaiki. Jika hal ini tidak dilakukan, kekayaan akan hilang, menghasilkan pendapatan negatif bagi pemiliknya. Ketika depresiasi dikurangi dari PDB, diperoleh “produk domestik neto”, di mana akan saya rujuk dengan lebih mudah sebagai “keluaran domestik” atau “produksi domestik”, yang biasanya sebesar 90 persen dari PDB.
Kemudian harus ditambahkan dengan pendapatan bersih yang diterima dari luar negeri (atau kurangi pendapatan bersih yang dibayarkan untuk penduduk asing, bergantung pada situasi masing-masing negara). Sebagai contoh, negara yang perusahaan dan aset modal lainnya dimiliki oleh asing mungkin akan memiliki produk domestik yang tinggi tetapi pendapatan nasional yang lebih rendah, begitu keuntungan dan sewa yang mengalir ke luar negeri dikurangi dari jumlah total. Sebaliknya, negara yang memiliki porsi modal yang lebih besar atas negara lain dapat menikmati pendapatan nasional yang lebih tinggi daripada produk domestiknya.
Nanti akan saya berikan contoh atas dua situasi ini, ditarik dari sejarah kapitalisme dan juga dari kondisi dunia saat ini. Saya harus mengatakannya sekaligus bahwa tipe kesenjangan internasional ini dapat memunculkan tensi politik yang kuat. Ini bukan hal yang tidak signifikan ketika satu negara bekerja untuk negara lain dan membayar pembagian yang substansial atas keluarannya sebagai deviden dan meminjamkan kepada asing selama beberapa periode waktu. Pada banyak kasus, sistem seperti itu dapat bertahan (ke suatu titik) hanya jika didukung oleh hubungan atas dominasi politik, seperti kasus pada era kolonial, ketika Eropa secara efektif memiliki sebagian besar dari seluruh dunia. Pertanyaan kunci dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Di bawah kondisi apa situasi seperti ini akan terjadi lagi di abad 21, yang mungkin dalam beberapa konfigurasi geografis baru? Sebagai contoh, Eropa, daripada menjadi pemilik, mungkin lebih baik untuk dikuasai. Ketakutan seperti itu saat ini tersebar luas di Dunia Lama – mungkin terlalu luas. Kita akan lihat.
Pada tahap ini, cukup untuk mengatakan bahwa sebagian besar negara, apakah kaya atau tidak, saat ini dalam situasi seimbang lebih dari apa yang terkadang dibayangkan. Prancis sama dengan Amerika Serikat, Jerman sama dengan Inggris, Cina sama dengan Brazil, dan Jepang sama dengan Italia, pendapatan nasional sebesar satu atau dua persen dari produk domestik. Di semua negara ini, dengan kata lain, arus masuk keuntungan, bunga, deviden, sewa, dan seterusnya kurang lebih diimbangi oleh arus keluar yang sebanding. Di negara kaya, pendapatan bersih dari luar negeri secara umum sedikit positif. Untuk perkiraan pertama, para penduduk negara-negara ini memiliki banyak real estate dan instrumen keuangan asing seperti juga yang dimiliki penduduk asing terhadap negara ini. Bertentangan dengan mitos yang kuat, Prancis tidak dimiliki oleh dana pensiun California atau Bank Cina, lebih dari Amerika Serikat dimiliki investor Jepang dan Jerman. Ketakutan untuk mengalami keadaan sulit seperti itu sangat kuat saat ini bahwa fantasi seringkali melampaui kenyataan. Kenyataannya adalah kesenjangan akibat modal adalah masalah domestik yang lebih besar daripada masalah internasional. Kesenjangan atas kepemilikan modal membawa yang kaya dan miskin di dalam setiap negara ke dalam konflik antara satu dan lainnya lebih banyak daripada negara melawan negara lainnya. Meskipun demikian, hal ini tidak selalu menjadi kasus, dan sangat sah untuk bertanya apakah masa depan kita mungkin tidak terlihat seperti masa lalu kita, terutama sejak negara-negara tertentu – Jepang, Jerman, negara pengekspor minyak, dan Cina pada tingkat yang lebih rendah – selama beberapa tahun terakhir mengakumulasikan klaim substansial atas seluruh dunia (meskipun tidak sebesar catatan klaim pada era kolonial). Selanjutnya, peningkatan yang sangat substansial pada kepemilikan-silang, di mana banyak negara memiliki saham substansial antara satu dan lainnya, dapat memunculkan keabsahan rasa dispossession, bahkan ketika posisi aset bersih mendekati nol.
Kesimpulannya, pendapatan nasional sebuah negara bisa lebih besar atau lebih kecil daripada produk domestiknya, tergantung pada apakah pendapatan bersih dari luar negeri positif atau negatif.
Pendapatan nasional = keluaran domestik + pendapatan bersih dari luar negeri
Pada tingkat global, penerimaan pendapatan dari luar negeri dan yang dibayarkan keluar harus seimbang, sehingga pendapatan setara dengan keluaran:
Pendapatan global = keluaran global
Keseimbangan antara dua arus tahunan ini, pendapatan dan keluaran, merupakan identitas akuntansi, namun ini merefleksikan kenyataan penting. Pada setiap tahun tertentu, tidak mungkin total pendapatan melebihi jumlah kekayaan baru yang diproduksi (secara global; satu negara tentu saja meminjam dari luar negeri). Sebaliknya, semua produksi pasti didistribusikan sebagai pendapatan dalam satu bentuk atau lainnya, kepada buruh atau modal: apakah upah, gaji, honorarium, bonus, dan seterusnya (yaitu, sebagai pembayaran atas pekerja dan lainnya yang memberikan kontribusi tenaga ke dalam proses produksi) atau yang lainnya sebagai keuntungan, deviden, bunga, sewa, royalti, dan seterusnya (yaitu, sebagai pembayaran kepada pemilik modal yang digunakan dalam proses produksi).

Apa yang dimaksud dengan Modal?
Singkatnya: terlepas dari apakah kita melihat rekening sebuah perusahaan, negara, atau ekonomi global, keluaran dan pendapatan terkait dapat didekomposisi sebagai jumlah pendapatan modal dan pendapatan buruh:
Pendapatan nasional = pendapatan modal + pendapatan buruh
Tetapi apa yang dimaksud dengan modal? Apa batasannya? Apa bentuknya? Bagaimana komposisinya berubah sepanjang waktu? Ini merupakan pertanyaan sentral untuk investigasi ini, yang akan diperiksa dengan sangat rinci pada setiap bab. Untuk sekarang cukup untuk membuat poin-poin berikut:
Pertama, di dalam buku ini, ketika saya mengatakan “modal” tanpa kualifikasi lebih lanjut, saya selalu mengeliminasi apa yang oleh para ekonom seringkali disebut (sayangnya, ke dalam pikiran saya) “modal manusia”, yang terdiri dari kekuatan tenaga kerja, keahlian, pelatihan, dan kemampuan individu. Dalam buku ini, modal didefinisikan sebagai jumlah total aset non-manusia yang bisa dimiliki dan diperdagangkan di pasar. Modal termasuk semua bentuk properti nyata (termasuk real estate perumahan) juga modal finansial dan profesional (pabrik, infrastruktur, mesin, hak paten, dan seterusnya) yang digunakan perusahaan dan agensi pemerintah.
Ada banyak alasan mengeliminasi modal manusia dari definisi kita atas modal. Yang paling jelas adalah modal manusia tidak bisa dimiliki oleh orang lain atau diperdagangkan di pasar (tidak permanen, bagaimanapun). Ini adalah perbedaan kunci dari bentuk modal yang lain. Seseorang tentu saja dapat meletakkan jasa tenaga kerja seseorang untuk disewa dengan kontrak kerja. Meskipun demikian, di semua sistem hukum modern, pengaturan seperti itu harus dibatasi baik dalam waktu maupun ruang lingkup. Pada masyarakat budak, tentu saja, ini jelas tidak benar: di sana, pemilik budak bisa secara penuh dan benar-benar memiliki modal manusia atas orang lain dan bahkan keturunannya. Dalam masyarakat seperti itu, budak bisa dibeli dan dijual di pasar dan diberikan sebagai warisan, dan sudah umum untuk memasukkan budak dalam penghitungan kekayaan pemilik budak. Saya akan menunjukkan bagaimana hal ini bekerja ketika saya memeriksa komposisi modal privat di Amerika Serikat bagian selatan sebelum tahun 1865. Meninggalkan kasus khusus seperti itu (untuk sekarang historis), tidak masuk akal jika mencoba untuk menambahkan modal manusia dan non-manusia. Sepanjang sejarah, kedua bentuk kekayaan telah memaikan peran fundamental dan komplementer pada pertumbuhan dan perkembangan ekonomi dan akan berlanjut di abad 21. Tetapi untuk memahami proses pertumbuhan dan kesenjangan yang ditimbulkannya, kita harus membedakannya dengan hati-hati antara modal manusia dan non-manusia dan memperlakukan masing-masing secara terpisah.
Modal non-manusia, yang dalam buku ini akan saya sederhanakan dengan sebutan “modal”, termasuk semua bentuk kekayaan yang dapat dimiliki oleh individu (atau sekelompok individu) dan dapat berpindah atau diperdagangkan melalui pasar dengan basis permanen. Pada praktiknya, modal dapat dimiliki oleh individu secara privat (dalam hal ini kita berbicara tentang “modal privat”) atau oleh pemerintah atau agensi pemerintah (dalam hal ini kita berbicara tentang “modal publik”). Ada juga bentuk peralihan atas properti kolektif yang dimiliki oleh “orang bermoral” (yaitu, entitas seperti yayasan atau gereja) yang mengejar tujuan tertentu. Saya akan kembali ke sini. Batas antara apa yang individu privat dapat dan tidak dapat miliki telah berevolusi dengan pesat sepanjang waktu dan di seluruh dunia, sebagai kasus ekstrim yang menunjukkan perbudakan. Hal yang sama juga terjadi pada properti di bawah atmosfir, laut, gunung, monumen sejarah, dan pengetahuan. Kepentingan privat tertentu ingin memiliki hal-hal ini, dan terkadang mereka membenarkan keinginan ini dengan alasan efisiensi dan bukan sekedar untuk kepentingan diri sendiri. Tetapi tidak ada jaminan bahwa keinginan ini tepat dengan kepentingan umum. Modal bukan konsep yang kekal: dia mencerminkan keadaan pembangunan dan hubungan sosial yang berlaku di masing-masing masyarakat.

Modal dan Kekayaan
Untuk menyederhanakan teks, saya menggunakan kata “modal” dan “kekayaan” secara bergantian, karena mereka sangat identik. Meskipun dari beberapa definisi, akan lebih baik untuk menggunakan kata “modal” untuk menjelaskan bentuk kekayaan yang diakumulasikan oleh manusia (bangunan, mesin, insfrastruktur, dll.) dan oleh sebab itu mengecualikan tanah dan sumber daya alam, karena manusia telah dianugerahi itu tanpa perlu membuatnya. Kemudian tanah akan menjadi komponen kekayaan tetapi bukan modal. Masalahnya adalah tidak selalu mudah untuk memisahkan nilai bangunan dari nilai tanah di mana bangunan tersebut dibangun. Lebih sulit lagi untuk mengukur nilai tanah yang “perawan” (seperti yang ditemukan manusia berabad atau millenium lalu) terpisah dari perbaikan karena intervensi manusia, seperti drainase, irigasi fertilisasi, dan seterusnya. Masalah yang sama muncul dalam koneksi dengan sumber daya alam seperti minyak bumi, gas, elemen bumi langka, dan sejenisnya, yang nilai murninya sangat sulit untuk dipisahkan dari nilai tambah atas investasi yang dibutuhkan untuk menemukan deposit baru dan menyiapkannya untuk eksploitasi. Oleh karena itu saya memasukkan semua bentuk kekayaan ini dalam modal. Tentu saja pilihan ini tidak mengurangi kebutuhan untuk melihat lebih jelas asal-usul kekayaan, terutama garis batas antara akumulasi dan apropriasi.
Beberapa definisi atas “modal” berpendapat bahwa istilah tersebut hanya berlaku untuk komponen kekayaan yang secara langsung dikerjakan dalam proses produksi. Misalnya, emas mungkin dihitung sebagai bagian dari kekayaan tapi bukan modal, karena emas hanya berguna untuk menyimpan nilai. Sekali lagi, keterbatasan ini, membatasi saya (karena emas dapat menjadi faktor produksi, tidak hanya pada manufaktur perhiasan tetapi juga pada elektronik dan nanoteknologi). Modal dalam semua bentuk ini selalu memaikan peran ganda, untuk menyimpan nilai dan sebagai faktor produksi. Saya oleh karena itu memutuskan bahwa lebih sederhana untuk tidak memaksakan perbedaan yang kaku antara kekayaan dan modal.
Demikian pula, saya mengesampingkan gagasan untuk mengecualikan real estate perumahan dari modal dengan alasan bahwa itu “tidak produktif”, tidak seperti “modal produktif” yang digunakan oleh perusahaan dan pemerintah: pabrik industri, bangunan kantor, mesin, infrastruktur, dan seterusnya. Semua bentuk kekayaan ini berguna dan produktif dan mencerminkan dua fungsi ekonomis utama dari modal. Real estate perumahan dapat dilihat sebagai aset modal yang menghasilkan “jasa rumah”, yang nilainya diukur dari nilai wajar sewanya. Aset modal lainnya dapat digunakan sebagai faktor produksi untuk perusahaan dan agensi pemerintah yang memproduksi barang dan jasa (dan membutuhkan pabrik, kantor, mesin, infrastruktur, dll. untuk melakukannya). Masing-masing dari dua jenis modal ini saat ini memberikan sekitar setengah dari modal di negara-negara maju.
Kesimpulannya, saya mendefinisikan “kekayaan nasional” atau “modal nasional” sebagai total nilai pasar atas apa pun yang dimiliki oleh penduduk dan pemerintah di suatu negara tertentu pada suatu waktu tertentu, asalkan dapat diperdagangkan di pasar. Ini terdiri dari jumlah total aset non-keuangan (tanah, tempat tinggal, persediaan komersial, bangunan-bangunan lainnya, mesin, infrastruktur, hak paten, dan aset profesional lainnya yang dimiliki secara langsung) dan aset keuangan (rekening bank, reksa dana, obligasi, saham, semua jenis instrumen keuangan, polis asuransi, dana pensiun, dll.), dikurangi jumlah total liabilitas keuangan (utang). Jika kita hanya melihat pada aset dan liabilitas individu privat, hasilnya adalah kekayaan privat atau modal privat. Jika kita menganggap aset dan liabilitas dimiliki oleh pemerintah dan entitas pemerintah lainnya (seperti kota, agensi asuransi sosial, dll.), hasilnya adalah kekayaan publik atau modal publik. Dengan definisi tersebut, jumlah dari dua istilah ini:
Kekayaan nasional = kekayaan privat + kekayaan publik
Kekayaan publik di sebagian besar negara maju saat ini tidak signifikan (atau bahkan negatif, di mana utang publik melebihi aset publik). Seperti yang akan saya tunjukkan, kekayaan privat menyumbang hampir semua kekayaan nasional hampir di mana-mana. Ini tidak selalu terjadi, namun, sangat penting untuk membedakan dengan jelas antara kedua pengertian ini.
Untuk lebih jelasnya, meskipun konsep saya atas modal mengecualikan modal manusia (yang tidak dapat dipertukarkan pada pasar apapun di masyarakat non-budak), ini tidak terbatas untuk modal “fisik” (tanah, bangunan, infrastruktur, dan barang material lainnya). Saya memasukkan modal “non-material” seperti hak paten dan properti intelektual lainnya, yang dihitung sebagai aset non-keuangan (jika individu memiliki paten secara langsung) atau sebagai aset keuangan (ketika individu memiliki saham atas perusahaan yang memiliki paten, seperti kasus pada umumnya). Lebih luas lagi, banyak bentuk modal non-material dihitung dengan kapitalisasi pasar saham korporasi. Misalnya, nilai pasar saham perusahaan seringkali bergantung pada reputasi dan merk dagangnya, sistem informasi dan modus organisasinya, investasinya, apakah material atau non-material, untuk tujuan membuat produk atau jasanya lebih terlihat menarik, dan seterusnya. Semua ini tercermin pada harga saham biasa dan aset keuangan korporat lainnya dan oleh karena itu ada dalam kekayaan nasional.
Untuk memastikan, harga yang diatur oleh pasar keuangan atas perusahaan atau bahkan sektor modal non-material pada suatu momen tertentu sebagian besar tidak pasti. Kita melihat ini pada kebangkrutan Internet bubble pada tahun 2000, dalam krisis keuangan yang dimulai pada tahun 2007-2008, dan lebih umum pada vilatilitas pasar saham besar. Fakta yang penting untuk dicatat saat ini yaitu inilah karakteristik semua bentuk modal, tidak hanya modal non-material. Apakah kita berbicara tentang membangun sebuah perusahaan, perusahaan manufaktur atau perusahaan jasa, selalu sangat sulit untuk mengatur harga modal. Namun saya akan menunjukkan, total kekayaan nasional, yaitu, kekayaan atas suatu negara secara keseluruhan dan tidak untuk tipe aset tertentu, mengikuti aturan tertentu dan sesuai dengan pola reguler tertentu.
Poin lebih lanjut: total kekayaan nasional selalu dapat dipecah menjadi modal domestik dan modal asing:
Kekayaan nasional = modal nasional = modal domestik + modal asing bersih
Modal domestik adalah nilai atas modal saham (bangunan, perusahaan, dll.) yang terletak dalam wilayah negara tersebut. Modal asing bersih – atau aset asing bersih – mengukur posisi negara terhadap seluruh dunia: lebih spesifik, ini adalah perbedaan antara aset yang dimiliki oleh penduduk negara di seluruh dunia dan aset negara yang dimiliki oleh penduduk di negara lain. Pada saat menjelang Perang Dunia I, Inggris dan Prancis keduanya menikmati posisi aset positif bersih yang signifikan terhadap seluruh dunia. Salah satu karakteristik globalisasi keuangan yang terjadi sejak tahun 1980 adalah banyak negara memiliki posisi aset bersih yang lebih atau kurang, tetapi posisi itu cukup besar secara absolut. Dengan kata lain, banyak negara memiliki modal saham yang besar di negara lain, tetapi negara lain ini juga memiliki saham di negara tersebut, dan dua posisi ini kurang lebih sama, sehingga modal asing bersih mendekati nol. Secara global, tentu saja, semua posisi bersih harus mendekati nol, sehingga total kekayaan global sama dengan modal “domestik” seluruh planet.

Rasio Modal/Pendapatan
Pendapatan dan modal sudah didefinisikan, saya akan menuju ke hukum dasar pertama yang mengikat dua gagasan ini bersamaan. Saya mulai dengan mendefinisikan rasio modal/pendapatan.
Pendapatan adalah arus. Dia sesuai dengan kuantitas barang yang diproduksi dan didistribusikan pada suatu periode tertentu (yang biasa kita anggap satu tahun).
Modal adalah saham. Dia sesuai dengan total kekayaan pada suatu waktu tertentu. Saham ini datang dari kekayaan yang diapropriasi atau diakumulasi pada tahun-tahun sebelumnya yang dikombinasikan.
Cara yang paling alami dan berguna untuk mengukur modal saham pada negara tertentu adalah membagi saham ini dengan arus pendapatan tahunan. Ini akan memberikan kita rasio modal/pendapatan, yang saya lambangkan dengan huruf Yunani β.
Sebagai contoh, jika total modal saham negara setara dengan enam tahun pendapatan nasional, kita menulis β = 6 (atau β = 600%).
Di negara-negara maju saat ini, rasio modal/pendapatan secara umum bervariasi antara 5 dan 6, dan modal saham terdiri dari hampir semua modal privat. Di Prancis dan Inggris, Jerman dan Italia, Amerika Serikat dan Jepang, pendapatan nasional sekitar 30.000-35.000 euro per kapita pada tahun 2010, sedangkan total kekayaan privat (setelah dikurangi utang) biasanya ada pada urutan 150.000-200.000 euro per kapita, atau lima sampai enam kali pendapatan nasional tahunan. Ada variasi yang menarik baik di Eropa maupun di seluruh dunia. Misalnya, β lebih besar dari 6 di Jepang dan Italia dan kurang dari 5 di Amerika Serikat dan Jerman. Kekayaan publik hampir positif di beberapa negara dan sedikit negatif di negara lainnya. Dan seterusnya. Saya memeriksa hal ini secara rinci di beberapa bab berikutnya. Pada poin ini, cukup untuk mengingat besaran ini, agar bisa membuat gagasan sekonkrit mungkin.
Fakta bahwa pendapatan nasional di negara-negara kaya di dunia pada tahun 2010 ada pada urutan 30.000 euro per kapita per annum (atau 2.500 euro per bulan) tentu saja tidak berarti setiap orang menghasilkan jumlah itu. Seperti semua rata-rata, rata-rata pendapatan ini menyembunyikan perbedaan yang sangat besar. Pada praktiknya, banyak orang menghasilkan kurang dari 2.500 euro per bulan, ketika yang lainnya menghasilkan puluhan kali lebih banyak. Perbedaan pendapatan adalah sebagian hasil dari bayaran untuk pekerjaan yang tidak sama dan sebagian yang lebih besar dari kesenjangan pendapatan dari modal, yang merupakan konsekuensi atas pemusatan kekayaan yang ekstrim. Rata-rata pendapatan nasional per kapita sederhananya adalah jumlah yang seseorang dapat distribusikan kepada individu yang lain jika memungkinkan untuk meratakan distribusi pendapatan tanpa mengubah total keluaran atau pendapatan nasional.
Demikian pula, kekayaan privat per kapita sebesar 180.000 euro, atau enam tahun pendapatan nasional, tidak berarti bahwa setiap orang memiliki modal sebesar itu. Banyak orang memiliki lebih sedikit, sementara beberapa orang memiliki jutaan atau puluhan juta euro aset modal. Banyak populasi yang memiliki akumulasi kekayaan sangat sedikit – jauh lebih sedikit daripada pendapatan satu tahun: beberapa euro di rekening bank, setara dengan upah beberapa minggu atau bulan. beberapa orang bahkan memiliki kekayaan negatif: dengan kata lain, barang-barang yang mereka miliki kurang dari utang mereka. Sebaliknya, yang lain memiliki nasib yang cukup baik, mulai dari 10 sampai 20 kali pendapatan annual mereka atau bahkan lebih. Rasio modal/pendapatan untuk negara secara keseluruhan tidak memberi tahu kita apapun selain kesenjangan di negara tersebut. Tetapi β mengukur pentingnya modal secara keseluruhan dalam masyarakat, maka menganalisis rasio ini adalah langkah pertama yang dibutuhkan dalam studi mengenai kesenjangan. Tujuan utama Bagian Dua adalah untuk memahami bagaimana dan mengapa rasio modal/pendapatan bervariasi dari negara ke negara, dan bagaimana hal tersebut berevolusi dari waktu ke waktu.
Untuk mengapresiasi bentuk konkrit kekayaan di dunia saat ini, penting untuk dicatat bahwa modal saham di negara-negara maju saat ini terdiri dari dua saham yang hampir setara: modal residential dan modal profesional yang digunakan perusahaan dan pemerintah. Singkatnya, setiap warga negara dari salah satu negara kaya menghasilkan rata-rata 30.000 euro per tahun pada tahun 2010, memiliki sekitar 180.000 euro modal, 90.000 dalam bentuk tempat tinggal dan 90.000 lainnya dalam bentuk saham, obligasi, tabungan, atau investasi lainnya. Ada variasi lintas negara yang menarik, yang akan saya analisis di Bab 2. Untuk sekarang, fakta bahwa modal dapat dibagi menjadi dua saham yang kurang lebih setara menjadi penting untuk diingat.

Hukum Fundamental Kapitalisme yang Pertama: α = r × Î²
Saya sekarang bisa mempresentasikan hukum fundamental kapitalisme yang pertama, yang mengaitkan modal saham dan arus pendapatan dari modal. Rasio modal/pendapatan β berhubungan secara sederhana dengan pembagian pendapatan dari modal pada pendapatan nasional, dilambangkan dengan α. Rumusnya adalah
α = r × Î²
di mana r adalah tingkat pengembalian atas modal.
Sebagai contoh, jika β = 600% dan r = 5%, maka α = r × Î² = 30%.
Dengan kata lain, jika kekayaan nasional setara dengan enam tahun pendapatan nasional, dan jika tingkat pengembalian atas modal adalah 5 persen per tahun, maka pembagian modal dalam pendapatan nasional adalah 30 persen.
Rumus α = r × Î² adalah murni identitas akuntansi. Ini dapat diaplikasikan ke semua masyarakat pada semua periode sejarah, menurut definisi. Meskipun tautologis, ini tetap harus dianggap sebagai hukum fundamental kapitalisme yang pertama, karena ini mengungkapkan dengan sederhana, hubungan transparan di antara tiga konsep paling penting untuk menganalisis sistem kapitalis: rasio modal/pendapatan, pembagian modal dalam pendapatan, dan tingkat pengembalian atas modal.
Tingkat pengembalian atas modal adalah konsep sentral dalam banyak teori ekonomi. Khususnya, analisis Marxis menekankan turunnya tingkat keuntungan – prediksi historis yang ternyata salah, meskipun itu mengandung intuisi yang menarik. Konsep tingkat pengembalian atas modal juga memainkan peran sentral dalam banyak teori. Meskipun demikian, tingkat pengembalian atas modal mengukur imbal hasil modal selama satu tahun terlepas dari bentuknya (keuntungan, sewa, deviden, bunga, royalti, keuntungan modal, dll.), diungkapkan dalam persentase dari nilai modal yang diinvestasikan. Oleh karena itu, ini merupakan gagasan yang lebih luas daripada “tingkat keuntungan”, dan lebih luas daripada “tingkat bunga”, sambil menggabungkan keduanya.
Jelas, tingkat pengembalian bisa sangat bervariasi, bergantung pada jenis investasi. Beberapa perusahaan menghasilkan tingkat pengembalian lebih besar dari 10 persen per tahun; yang lainnya menghasilkan kerugian (tingkat pengembalian negatif). Rata-rata tingkat pengembalian atas saham dalam jangka panjang adalah 7-8 persen di banyak negara. Investasi di real estate dan obligasi seringkali pengembaliannya 3-4 persen, sementara tingkat bunga riil pada utang publik terkadang lebih rendah. Rumus α = r × Î² tidak memberi kita informasi apa-apa tentang seluk-beluk ini, tetapi memberi tahu kita bagaimana menghubungkan tiga kuantitas ini, yang dapat berguna untuk membingkai diskusi.
Sebagai contoh, di negara-negara kaya sekitar tahun 2010, pendapatan dari modal (keuntungan, bunga, deviden, sewa, dll.) secara umum ada di sekitar 30 persen dari pendapatan nasional. Dengan rasio modal/pendapatan sebesar 600 persen, ini berarti tingkat pengembalian atas modal adalah sekitar 5 persen.
Secara konkrit, ini berarti pendapatan nasional per kapita saat ini sebesar 30.000 euro per tahun di negara-negara kaya terbagi menjadi 21.000 euro pendapatan per tahun dari buruh (70 persen) dan 9.000 euro pendapatan dari modal (30 persen). Setiap warga negara memiliki modal rata-rata 180.000 euro, dan pendapatan dari modal sebesar 9.000 euro sesuai dengan rata-rata pengembalian atas modal tahunan sebesar 5 persen.
Sekali lagi, yang saya bicarakan di sini hanya rata-rata: beberapa individu menerima pendapatan dari modal jauh lebih dari 9.000 euro per tahun, sementara yang lainnya tidak menerima apapun ketika membayar sewa kepada tuan tanahnya dan bunga kepada krediturnya. Variasi negara-ke-negara yang cukup besar juga ada. Selain itu, mengukur pembagian pendapatan dari modal baik secara konseptual dan praktik, karena terdapat beberapa kategori pendapatan (seperti pendapatan self-employment non-upah dan pendapatan wirausaha) yang susah untuk dibagi menjadi pendapatan dari modal dan pendapatan dari buruh. Pada beberapa kasus ini bisa membuat perbandingan yang salah. Ketika masalah seperti itu muncul, metode yang paling sempurna dalam mengukur pembagian modal atas pendapatan mungkin dengan menggunakan tingkat pengembalian modal ke rasio modal/pendapatan. Pada tahap ini, besaran yang diberikan di atas (β = 600%, α = 30%, r = 5%) bisa dianggap tipikal.
Agar lebih konkrit, mari kita catat, juga, bahwa rata-rata tingkat pengembalian atas tanah di masyarakat pedesaan biasanya di urutan 4-5 persen. Dalam novel Jane Austen dan Honoré de Balzac, fakta bahwa tanah (seperti obligasi pemerintah) menghasilkan kira-kira 5 persen dari jumlah modal yang diinvestasikan (atau, setara, nilai modal sesuai dengan perkiraan sewa tahunan selama 20 tahun) dengan sengaja sehingga seringkali tidak disebutkan. Para pembaca kontemporer sadar bahwa butuh 1 juta franc untuk menghasilkan sewa tahunan sebesar 50.000 franc. Bagi para novelis abad 19 dan pembacanya, hubungan antara modal dan sewa tahunan sangat jelas, dan dua skala pengukur digunakan bergantian, seolah-olah sewa dan modal itu adalah sinonim, atau kesetaraan sempurna atas dua bahasa berbeda.
Sekarang, pada awal abad 21, kita menemukan pengembalian yang kira-kira sama pada real estate, 4-5 persen, terkadang sedikit lebih kecil, terutama di mana harga meningkat secara pesat tanpa menaikkan harga sewa pada tingkat yang sama. Sebagai contoh, pada tahun 2010, sebuah apartemen besar di Paris, dinilai sebesar 1 juta euro, biasanya disewakan lebih dari 2.500 euro per bulan, atau sewa tahunan sebesar 30.000 euro, yang sesuai dengan pengembalian atas modal hanya 3 persen per tahun dari sudut pandang tuan tanah. Akan tetapi sewa ini cukup tinggi untuk penyewa yang hanya hidup dari pendapatannya sebagai buruh (dengan asumsi dia dibayar dengan baik) sementara ini merepresentasikan pendapatan yang signifikan untuk tuan tanah. Kabar buruknya (atau kabar baik, tergantung pada sudut pandang anda) adalah semua hal ini akan selalu seperti ini. Jenis sewa ini cenderung untuk meningkat sampai pengembalian atas modal berkisar 4 persen (yang di dalam contoh ini akan sesuai dengan sewa 3.000 – 3.500 euro per bulan, atau 40.000 per tahun). Oleh karena itu, sewa ini tampaknya akan meningkat di masa depan. Pengembalian atas investasi tahunan tuan tanah akhirnya akan membesar dengan keuntungan modal jangka panjang pada nilai apartemen. Apartemen yang lebih kecil menghasilkan pengembalian yang sama atau sedikit lebih tinggi. Apartemen yang dinilai sebesar 100.000 euro, sewanya dapat menghasilkan 400 euro per bulan, atau mendekati 5.000 per tahun (5 persen). Orang yang memiliki apartemen dan memilih untuk tinggal di sana dapat menyimpan uang sejumlah itu dan menggunakannya untuk hal lain, yang menghasilkan pengembalian atas investasi yang sama.
Modal yang diinvestasikan pada bisnis tentu saja berada dalam resiko yang tinggi, maka pengembaliannya rata-rata seringkali lebih tinggi. Kapitalisasi pasar modal atas perusahaan yang terdaftar di banyak negara umumnya merepresentasikan keuntungan tahunan selama 12 sampai 15 tahun, yang sesuai dengan pengembalian atas investasi tahunan sebesar 6-8 persen (sebelum pajak).
Rumus α = r × Î² membuat kita dapat menganalisis pentingnya modal untuk seluruh negara atau bahkan di seluruh planet. Itu juga bisa digunakan untuk mempelajari akun atas perusahaan yang spesifik. Sebagai contoh, perusahaan yang menggunakan modal sebesar 5 juta euro (termasuk kantor, infrastruktur, mesin, dll.) untuk memproduksi 1 juta euro barang secara tahunan, dengan 600.000 euro digunakan untuk membayar para pekerja dan 400.000 euro menjadi keuntungan. Rasio modal/pendapatan atas perusahaan ini adalah β = 5 (modal ini ekuivalen dengan keluaran lima tahun), pembagian untuk modal α adalah 40 persen, dan tingkat pengembalian atas modal r = 8 persen.
Bayangkan perusahaan lain yang menggunakan modal yang lebih sedikit (3 juta euro) untuk memproduksi keluaran yang sama (1 juta euro), tetapi menggunakan lebih banyak buruh (700.000 euro untuk upah, 300,000 euro untuk keuntungan). Untuk perusahaan ini, β = 3, α = 30 persen, dan r = 10 persen. Perusahaan kedua menggunakan modal yang lebih sedikit dari yang pertama, tetapi lebih menguntungkan (tingkat pengembalian atas modal ini secara signifikan lebih tinggi).
Di semua negara, besarnya β, α, dan r bervariasi dari perusahaan ke perusahaan. Beberapa sektor lebih padat modal daripada yang lainnya: sebagai contoh, sektor logam dan energi lebih padat modal daripada sektor tekstil dan pemrosesan makanan, dan sektor manufaktur lebih padat modal daripada sektor jasa. Ada juga variasi yang signifikan antar perusahaan di sektor yang sama, tergantung pada pilihan atas teknologi produksi dan posisi pasar. Tingkat β, α, dan r pada negara tertentu juga tergantung pada saham relatif atas real estate perumahan dan sumber daya alam pada modal total.
Ini menekankan bahwa hukum α = r × Î² tidak memberi tahu kita bagaimana masing-masing ketiga variabel ini ditentukan, atau, secara khusus, bagaimana rasio modal/pendapatan (β) nasional ditentukan, yang menjadi pengukuran atas bagaimana masyarakat tersebut kapilalistik secara terus menerus. Untuk menjawab pertanyaan ini kita harus mengenalkan gagasan dan hubungan tambahan, secara khusus tingkat tabungan dan investasi dan tingkat pertumbuhan. Hal ini akan mengarahkan kita ke hukum dasar kapitalisme yang kedua: tingkat tabungan yang lebih tinggi dan tingkat pertumbuhan yang lebih rendah, rasio modal/pendapatan (β) yang lebih tinggi. Ini akan ditunjukkan pada beberapa bab berikutnya; pada tahap ini, hukum α = r × Î² secara sederhana berarti tanpa memandang kekuatan ekonomi, sosial, dan politik menentukan tingkat rasio modal/pendapatan (β), pembagian modal atas pendapatan (α), dan tingkat pengembalian atas modal (r), ketiga variabel ini tidak bebas satu sama lain. Secara konseptual, ada dua derajat kebebasan, bukan tiga.

Akun Nasional: Sebuah Evolusi Konstruk Sosial
Konsep kunci atas keluaran dan pendapatan, modal dan kekayaan, rasio modal/pendapatan, dan tingkat pengembalian atas modal sudah dijelaskan, saya akan memeriksa lebih rinci lagi bagaimana kuantitas abstrak ini bisa diukur dan pengukuran apa yang dapat memberi tahu kita tentang evolusi historis atas distribusi kekayaan di banyak negara. Saya akan mengulas secara singkat tahap-tahap utama dalam sejarah akun nasional dan kemudian menyajikan gambaran bagaimana distribusi global atas keluaran dan pendapatan berubah sejak abad 18, dengan diskusi atas bagaimana demografi dan tingkat pertumbuhan ekonomi berubah sepanjang periode yang sama. Tingkat pertumbuhan ini akan memainkan bagian penting dalam analisis.
Seperti yang sudah dijelaskan, usaha pertama untuk mengukur pendapatan nasional dan modal membawa kita ke akhir abad 17 dan awal abad 18. Sekitar tahun 1700, beberapa estimasi tertutup muncul di Inggris dan Prancis (secara independen satu sama lain). Saya berbicara tulisan William Petty (1664) dan Gregory King (1696) untuk Inggris dan Pierre le Pesant, sieur de Boisguillebert (1695), dan Sébastien Le Prestre de Vauban (1707) untuk Prancis. Tulisan mereka fokus pada modal saham nasional dan arus pendapatan nasional tahunan. Salah satu tujuan primer mereka adalah untuk menghitung total nilai tanah, yang merupakan sumber kekayaan paling penting dalam masyarakat agraris, dan kemudian menghubungkan kuantitas kekayaan tanah ke tingkat keluaran agrikultur dan sewa tanah.
Hal ini wajar saja karena penulis-penulis tersebut memiliki tujuan politik, secara umum melakukan sesuatu dengan modernisasi sistem pajak. Dengan menghitung pendapatan dan kekayaan nasional, mereka berharap untuk menunjukkan pada kekuasaan tertinggi bahwa memungkinkan untuk meningkatkan penerimaan pajak yang sangat tinggi dengan tingkat pajak yang relatif rendah, dengan ketentuan bahwa semua properti dan barang yang diproduksi merupakan subjek pajak dan setiap orang harus membayar, termasuk tuan tanah baik yang kaum bangsawan maupun keturunan biasa. Tujuan ini terlihat di Projet de dime royale-nya Vauban, juga jelas di tulisan Boisguillebert dan King (walaupun hanya sedikit di tulisan Petty).
Akhir abad 18 melihat usaha lebih lanjut untuk mengukur pendapatan dan kekayaan, khususnya sekitar waktu Revolusi Prancis. Antoine Lavoisier mempublikasikan estimasinya untuk tahun 1789 dalam bukunya La Rhicesse territoriale du Royaume de France (Kekayaan Teritori Atas Kerajaan Prancis), dipublikasikan tahun 1791. Sistem pajak baru ini digunakan setelah Revolusi, yang menghentikan hak istimewa kaum bangsawan dan menarik pajak atas semua properti, yang sangat besar terinspirasi dari buku ini, yang telah digunakan secara luas untuk mengestimasikan penerimaan yang diharapkan atas pajak baru.
Demikian pada abad 19, kekayaan nasional diestimasikan berlipat ganda. Dari tahun 1870 sampai 1900, Robert Giffen secara reguler memperbarui estimasinya atas modal saham nasional Inggris, yang dia komparasikan dengan estimasi penulis lain (khususnya Patrick Colquhoun) dari awal tahun 1800. Giffen merasa heran pada ukuran saham Inggris atas modal industrial seperti saham atas aset asing yang diakuisisi sejak perang Napoleon, yang jauh lebih besar daripada seluruh utang publik sebagai akibat perang. Di Prancis pada sekitar waktu yang sama, Alfred de Foville dan Clément Colson mempublikasikan estimasi “kekayaan nasional” dan “kekayaan privat,” dan, seperti Giffen, kedua penulis ini juga merasa heran pada akumulasi yang banyak atas modal privat selama abad 19. Ini jelas mencolok kepada siapa saja bahwa nasib privat sangat makmur pada periode 1870-1914. Bagi para ekonom saat ini, masalahnya adalah mengukur kekayaan tersebut dan mengkomparasikan negara-negara berbeda (persaingan Prancis-Inggris tidak pernah jauh dari pemikiran mereka). Sampai Perang Dunia I, estimasi kekayaan mendapat perhatian lebih besar daripada estimasi pendapatan dan keluaran, dan juga ada yang lebih banyak dari mereka, tidak hanya di Inggris dan Prancis tetapi juga di Jerman, Amerika Serikat, dan kekuatan industri lainnya. Pada saat itu, menjadi ekonom berarti yang utama adalah mampu mengestimasi modal nasional atas sebuah negara: hampir menjadi sebuah ritual pengakuan.
Hal ini tidak lagi dilakukan sampai periode antara dua perang dunia di mana akun nasional mulai mempertimbangkan basis tahunan. Estimasi sebelumnya selalu fokus pada tahun-tahun yang terisolasi, dengan estimasi berturut-turut dipisah oleh 10 tahun atau lebih, seperti pada kalkulasi Giffen atas modal nasional Inggris pada abad 19. Pada tahun 1930 kemajuan pada sumber statistik primer membuat seri tahunan pertama atas pendapatan nasional menjadi memungkinkan. Hal ini secara umum kembali ke permulaan abad 20 atau dekade akhir abad 19. Untuk Amerika Serikat digunakan oleh Kuznets dan Kendrick, untuk Inggris oleh Bowley dan Clark, dan untuk Prancis oleh Dugé de Bernonville. Setelah Perang Dunia II, kantor statistik pemerintah menggantikan para ekonom dan mulai menyusun dan mempublikasikan data tahunan resmi atas PDB dan pendapatan nasional. Seri resmi ini berlanjut hingga saat ini.
Dikomparasikan dengan periode pra-Perang Dunia I, bagaimanapun, data telah berubah secara keseluruhan. Dari tahun 1940 ke atas, motivasi primernya adalah untuk merespon trauma atas Great Depression, selama pemerintah tidak memiliki estimasi tahunan yang dapat dipercaya atas keluaran ekonomis. Oleh karena itu ada kebutuhan akan alat statistik dan politik untuk mengendalikan ekonomi dengan tepat dan mencegah terjadinya bencana. Pemerintah dengan demikian membutuhkan data tahunan atau bahkan kuartal atas keluaran dan pendapatan. Estimasi kekayaan nasional, yang menjadi sesuatu yang bernilai sebelum tahun 1914, sekarang menempati kursi belakang, khususnya setelah kekacauan ekonomi dan politik pada tahun 1914-1945 membuat interpretasi maknanya menjadi sulit. Secara spesifik, harga real estate dan aset keuangan jatuh ke tingkat yang sangat rendah, begitu rendah sehingga modal privat terlihat menghilang. Pada tahun 1950 dan 1960, periode rekonstruksi, tujuan utama adalah mengukur pertumbuhan keluaran yang luar biasa di banyak cabang industri.
Pada tahun 1990-2000, penghitungan kekayaan hadir lagi di posisi depan. Para ekonom dan pemimpin politik sadar bahwa kapitalisme keuangan abad 21 tidak bisa dianalisis dengan alat tahun 1950 dan 1960. Bekerja sama dengan bank sentral, agensi statistik pemerintah di banyak negara maju menyusun dan mempublikasikan data seri tahunan atas aset dan liabilitas dalam kelompok-kelompok berbeda, selain data pendapatan dan keluaran biasa. Akun kekayaan ini tetap jauh dari sempurna: sebagai contoh, modal alam dan kerusakan lingkungan tidak dihitung dengan baik. Akan tetapi, merepresentasikan perkembangan nyata perubahan tingkat akun nasional dari awal tahun pasca-perang, yang hanya berkaitan dengan pertumbuhan keluaran tanpa henti. Ini adalah seri resmi yang saya gunakan di dalam buku ini untuk menganalisis kekayaan agregat dan rasio modal/pendapatan mutakhir di negara-negara kaya.
Sebuah kesimpulan atas sejarah singkat atas penghitungan keuangan ini: akun nasional adalah konstruk sosial dalam evolusi perpetual. Mereka selalu merefleksikan lebih dulu di era mereka dihasilkan. Kita harus berhati-hati untuk tidak memuja angka-angka yang dipublikasikan. Jika pendapatan nasional per kapita sebuah negara dikatakan sebesar 30.000 euro, meskipun ini angka yang jelas, seperti semua statistik ekonomi dan sosial, harus dipandang sebagai sebuah estimasi, sebuah konstruk, dan bukan kepastian matematis. Sederhanya adalah sebuah estimasi terbaik yang kita punya. Akun nasional merepresentasikan usaha yang paling konsisten, sistematis untuk menganalisis aktivitas ekonomi suatu negara. Mereka harus dipandang sebagai alat penelitian yang terbatas dan tidak sempurna, sebuah kompilasi dan rangkaian data dari sumber-sumber yang sangat berbeda. Di semua negara maju, akun nasional saat ini disusun oleh kantor statistik pemerintah dan bank sentral dari neraca saldo dan akun buku keuangan dan nonkeuangan korporasi bersamaan dengan banyak sumber dan survei statistik lainnya. Kita tidak memiliki alasan untuk berpikir bahwa lembaga yang terlibat di sini tidak melakukan upaya terbaiknya untuk mengenali inkonsistensi pada data untuk mencapai estimasi terbaiknya. Asalkan kita menggunakan data ini dengan sikap hati-hati dan semangat kritis dan melengkapinya dengan data lain jika ada kesalahan atau kesenjangan (katakanlah, dalam urusan pajak), akun nasional ini merupakan alat yang sangat dibutuhkan untuk mengestimasi pendapatan agregat dan kekayaan.
Secara khusus, seperti yang akan saya tunjukkan di Bagian Dua, kita dapat meletakkan bersama analisis evolusi historis yang konsisten atas rasio modal/pendapatan dengan menyusun dan mengkomparasikan secara teliti kekayaan nasional yang diestimasi oleh banyak penulis dari abad 18 sampai awal abad 20 dan menghubungkan mereka dengan akun modal resmi dari akhir abad 20 dan awal abad 21. Keterbatasan utama lainnya atas akun nasional resmi, terlepas dari kekurangan mereka atas perspektif historis, adalah mereka hanya memperhatikan agregat dan rata-rata dan bukan distribusi dan kesenjangan. Oleh karena itu kita harus menggunakan sumber lain untuk mengukur distribusi pendapatan dan kekayaan dan untuk mempelajari kesenjangan. Akun nasional dengan demikian membentuk elemen penting pada analisis kita, tetapi hanya jika dilengkapi dengan data historis dan distribusi.

Distribusi Global Atas Produksi
Saya mulai dengan memeriksa evolusi distribusi global atas produksi, yang relatif diketahui mulai awal abad 19 ke atas. Pada periode sebelumnya, estimasi lebih mendekati, tetapi kita tahu garis besar secara luas, terima kasih yang besar khususnya untuk tulisan Angus Maddison, terutama sejak pola keseluruhannya cenderung sederhana.
Dari tahun 1900 sampai 1980, 70-80 persen dari produksi global atas barang dan jasa terpusat di Eropa dan Amerika, yang tidak dapat dibantah mendominasi seluruh dunia. Tahun 2010, bagian Eropa-Amerika menurun sampai kira-kira 50 persen, mendekati tingkat yang sama dengan tahun 1860. Pada semua probabilitas, ini akan terus turun dan dapat menjadi sebesar 20-30 persen pada beberapa titik di abad 21. Ini adalah tingkat yang dikelola pada abad 19 dan akan konsisten dengan bagian Eropa-Amerika atas populasi dunia (lihat Gambar 1.1 dan 1.2).

GAMBAR 1.1. Distribusi keluaran dunia, 1700-2012
PDB Eropa sebesar 47 persen dari PDB dunia di tahun 1913, turun menjadi 25 persen di tahun 2012.
Sumber dan seri: lihat piketty.pse.ens.fr/capital21c.

GAMBAR 1.2. Distribusi populasi dunia, 1700-2012
Populasi Eropa sebesar 26 persen dari populasi dunia di tahun 1913, turun menjadi 10 persen di tahun 2012.
Sumber dan seri: lihat piketty.pse.ens.fr/capital21c.

Dengan kata lain, posisi depan yang dicapai oleh Eropa dan Amerika selama Revolusi Industri membuat mereka dapat mengklaim bagian atas keluaran global yang dua sampai tiga kali lebih besar dari bagian mereka atas populasi dunia karena keluaran per kapita mereka dua sampai tiga kali lebih besar dari rata-rata global. Semua pertanda menunjukkan bahwa fase divergensi pada keluaran per kapita sudah berakhir dan kita memulai periode konvergensi. Fenomena “catch-up” yang dihasilkan jauh dari yang sebelumnya, bagaimanapun (lihat Gambar 1.3). Terlalu dini untuk memprediksi kapan ini akan berakhir, khususnya sejak kemungkinan perubahan ekonomi dan/atau politik di Cina dan di tempat lain yang jelas tidak bisa dikendalikan dengan regulasi.

GAMBAR 1.3. Kesenjangan global, 1700-2012: divergensi kemudian konvergensi?
PDB per kapitan di Asia-Afrika meningkat dari 37 persen dari rata-rata dunia di tahun 1950 menjadi 61 persen di tahun 2012.
Sumber dan seri: lihat piketty.pse.ens.fr/capital21c.

Dari Blok Benua ke Blok Regional
Pola umum yang baru saja digambarkan adalah seperti yang diketahui secara umum, namun beberapa poin perlu untuk diklarifikasi dan diperjelas. Pertama, mengelompokkan Eropa dan Amerika sebagai “Blok Barat” menyederhanakan penyajian tetapi sebagian besar artifisial. Eropa mencapai keuntungan ekonomi maksimalnya pada Perang Dunia I, ketika dihitung mendekati 50 persen dari keluaran global, dan menurun secara terus-menerus sejak saat itu, sedangkan Amerika mencapai puncaknya di tahun 1950, ketika dihitung mendekati 40 persen dari keluaran global.
Selanjutnya, Eropa dan Amerika dapat dipecah menjadi dua subregional dengan kesenjangan yang tinggi: pusat yang terlalu berkembang dan daerah pinggiran yang kurang berkembang. Berbicara lebih luas, kesenjangan global paling bagus dianalisis dengan blok regional daripada blok benua. Hal ini dapat dilihat lebih jelas di Tabel 1.1, yang menunjukkan distribusi keluaran global di tahun 2012.

TABEL 1.1.
Distribusi PDB Dunia, 2012
Catatan: PDB dunia, diperkirakan dalam paritas daya beli, sekitar 71.200 milyar euro pada tahun 2012. Populasi dunia sekitar 7.050 milyar penduduk, PDB per kapita sebesar 10.100 euro (ekuivalen dengan pendapatan bulanan sekitar 760 euro per bulan). Semua angka dibulatkan ke puluhan atau ratusan terdekat.
Sumber dan seri: Lihat piketty.pse.ens.fr/capital21c.

Populasi planet ini mendekati 7 milyar pada tahun 2012, dan keluaran global sedikit lebih dari 70 triliun euro, sehingga keluaran global per kapita hampir mendekati 10.000 euro. Jika kita kurangi 10 persen dari depresiasi modal dan dibagi 12, kita temukan bahwa pendapatan per kapita per bulan sebesar 760 euro, yang merupakan cara lebih jelas untuk memahaminya. Dengan kata lain, jika keluaran global dan pendapatan dibagi rata, setiap individu di dunia akan memiliki penghasilan sekitar 760 euro per bulan.
Populasi Eropa sekitar740 juta, sekitar 540 juta dari mereka hidup sebagai warga Uni Eropa, yang memiliki keluaran per kapita melebihi 27.000 euro per tahun. 200 juta orang lainnya hidup di Rusia dan Ukraina, di mana keluaran per kapitanya sekitar 15.000 euro per tahun, hampir 50 persen di atas rata-rata global. Uni Eropa sendiri cenderung heterogen: 410 juta penduduknya hidup di tempat yang dulu disebut Eropa Barat, tiga perempat dari mereka ada di lima negara, yaitu Jerman, Prancis, Britania Raya, dan Spanyol dengan PDB per kapita rata-rata sebesar 31.000 euro per tahun, sementara 130 juta penduduk lainnya tinggal di tempat yang dulu disebut Eropa Timur dengan keluaran per kapita rata-rata sebesar 16.000 euro per tahun, tidak terlalu berbeda dari blok Rusia-Ukraina.
Amerika juga bisa dibagi berdasarkan regional yang berbeda yang bahkan lebih timpang daripada Eropa pusat dan sekelilingnya: blok US-Kanada memiliki 350 juta penduduk dengan keluaran per kapita sebesar 40.000 euro, sementara Amerika Latin memiliki 600 juta penduduk dengan keluaran per kapita sebesar 10.000 euro, persis sama dengan rata-rata dunia.
Sub-Saharan Afrika, dengan populasi 900 juta dan keluaran tahunan hanya 1,8 triliun euro (lebih kecil dari PDB Prancis yaitu 2 triliun), secara ekonomi merupakan wilayah yang paling miskin di dunia, dengan keluaran per kapita hanya 2.000 euro per tahun. India sedikit lebih tinggi, sementara Afrika Selatan jauh lebih baik, dan Cina bahkan lebih baik dari itu: dengan keluaran per kapita sebesar 8.000 euro per tahun, Cina pada tahun 2012 tidak jauh di bawah rata-rata dunia. Keluaran per kapita tahunan Jepang sama dengan negara-negara Eropa terkaya (sekitar 30.000 euro), tapi populasinya hanya minoritas kecil dalam populasi Asia sehingga pengaruhnya hanya sedikit terhadap rata-rata wilayah benua, yang dekat dengan Cina.

Kesenjangan Global: Dari 150 Euro per Bulan Hingga 3.000 Euro per Bulan
Kesimpulannya, kisaran kesenjangan global dari regional-regional dengan pendapatan per kapita sebesar 150-250 euro per bulan (sub-Saharan Afrika, India) ke regional-regional dengan pendapatan per kapita sebesar 2.500-3.000 euro per bulan (Eropa Barat, Amerika Utara, Jepang), adalah sepuluh hingga dua puluh kali lebih tinggi. Rata-rata global, yang kurang lebih sama dengan rata-rata Cina, adalah sekitar 600-800 euro per bulan.
Besaran ini signifikan dan perlu diingat. Ingatlah, bagaimana pun, margin error dalam penggambaran ini juga perlu dipertimbangkan: selalu lebih sulit untuk mengukur kesenjangan antar negara (atau antar periode yang berbeda) daripada di dalam negara itu sendiri.
Sebagai contoh, kesenjangan global akan jauh lebih tinggi jika kita menggunakan nilai tukar saat ini daripada paritas daya beli, seperti yang sudah saya lakukan sejauh ini. Untuk memahami apa maksud kalimat ini, pertimbangkan dahulu nilai tukar euro/dollar. Pada tahun 2012, nilai euro sekitar $1,30 di pasar pertukaran uang asing. Orang Eropa dengan pendapatan 1.000 euro per bulan bisa pergi ke bank dan menukarnya sejumlah $1.300. Jika orang tersebut mengambil uangnya di Amerika Serikat untuk dihabiskan, daya belinya adalah $1.300. Tetapi berdasarkan International Comparison Program (ICP), harga di Eropa sekitar 10 persen lebih tinggi dari harga di Amerika, sehingga jika orang Eropa yang sama menghabiskan uang yang sama di Eropa, daya belinya akan mendekati pendapatan Amerika sebesar $1.200. Maka dapat dikatakan bahwa $1,20 memiliki “paritas daya beli” sebesar 1 euro. Saya lebih suka menggunakan paritas ini daripada nilai tukar untuk mengkonversi PDB Amerika ke euro pada tabel 1.1, dan saya lakukan hal yang sama pada negara-negara lain yang terdaftar. Dengan kata lain, kita mengkomparasi PDB atas negara-negara yang berbeda berdasarkan daya beli aktual penduduknya yang secara umum menghabiskan pendapatannya di rumah, bukan di luar negeri.
Keuntungan lain menggunakan paritas daya beli adalah lebih stabil daripada nilai tukar. Memang, nilai tukar tidak hanya merefleksikan penawaran dan permintaan atas barang dan jasa di negara-negara yang berbeda tetapi juga perubahan mendadak dalam strategi investasi para investor internasional dan memperkirakan stabilitas politik dan/atau keuangan yang mudah berubah atas negara-negara ini, untuk tidak mengatakan perubahan kebijakan moneter tidak dapat diprediksi. Karena itu, nilai tukar sangat tidak stabil, secara sekilas fluktuasi dolar yang besar selama beberapa dekade lalu akan diperlihatkan. Tingkat dolar/euro $1,30 per euro pada tahun 1990 menjadi $0,90 pada tahun 2001 sebelum naik menjadi sekitar $1,50 pada tahun 2008 dan kemudian turun ke $1,30 pada tahun 2012. Selama itu paritas daya beli euro naik dari sekitar $1 per euro pada awal 1990 menjadi sekitar $1,20 pada tahun 2010 (lihat Gambar 1.4).

GAMBAR 1.4. Nilai tukar dan paritas daya beli: euro/dolar
Pada tahun 2012, 1 euro sebesar $1,30 berdasarkan nilai tukar, tapi $1,20 berdasarkan paritas daya beli.
Sumber dan seri: lihat piketty.pse.ens.fr/capital21c.

Bagaimanapun estimasi dari organisasi internasional termasuk ICP, tidak dapat dipungkiri bahwa fakta estimasi paritas daya beli tidak menentu, dengan margin error 10 persen jika tidak lebih tinggi, bahkan di antara negara-negara pada tingkat pembangunan yang sebanding. Sebagai contoh, survei terbaru yang tersedia menunjukkan bahwa di saat harga di Eropa (untuk energi, perumahan, hotel, dan restoran) memang lebih tinggi daripada harga yang sebanding di Amerika, sektor lainnya jauh di bawah (untuk kesehatan dan pendidikan, sebagai contoh). Secara teori, estimasi resmi semua harga sesuai dengan berbagai barang dan jasa dalam anggaran setiap negara, tetapi penghitungan tersebut jelas meninggalkan banyak ruang untuk kesalahan, terutama karena sulitnya mengukur perbedaan kualitatif untuk banyak jasa. Dalam kasus lain, sangat penting untuk ditekankan bahwa setiap indeks harga mengukur aspek yang berbeda atas realitas sosial. Harga atas energi mengukur daya beli atas energi (yang lebih tinggi di Amerika Serikat), sementara harga atas kesehatan mengukur daya beli pada area tersebut (yang lebih tinggi di Eropa). Realitas atas kesenjangan antar negara sangat multidimensional, dan salah untuk mengatakan bahwa itu semua dapat digambarkan dengan indeks tunggal yang mengarah ke klasifikasi yang tidak ambigu, khususnya antar negara dengan pendapatan rata-rata yang sama.
Di negara-negara yang lebih miskin, koreksi ini menunjukkan bahwa paritas daya beli bahkan lebih besar: di Afrika dan Asia, harga-harga kurang lebih setengah dari harga-harga di negara-negara kaya, sehingga PDB kurang lebih dua kali lipat ketika paritas daya beli digunakan untuk perbandingan daripada nilai tukar pasar. Terutama hasil atas fakta bahwa harga atas barang dan jasa yang tidak dapat diperdagangkan secara internasional lebih rendah, karena biasanya merupakan relatif intensif tenaga kerja dan meliputi relatif tenaga kerja yang tidak memiliki keahlian (faktor produksi yang relatif melimpah di negara-negara kurang berkembang), berbeda dengan tenaga kerja yang memiliki keahlian dan modal (yang relatif langka di negara-negara kurang berkembang). Pada umumnya, semakin miskin negara, semakin besar koreksinya: pada tahun 2012, koefisien koreksi adalah 1,6 di Cina dan 2,5 di India. Pada momen ini, euro sebesar 8 yuan pada nilai tukar asing tapi hanya 5 yuan pada paritas daya beli. Kesenjangan ini mengecil ketika Cina mengembangkan dan merevaluasi nilai yuan (lihat Gambar 1.5). Beberapa penulis, termasuk Angus Maddison, berargumen bahwa kesenjangan ini tidak sekecil yang mungkin disajikan dalam statistik resmi internasional yang mengukur PDB China terlalu rendah.

GAMBAR 1.5. Nilai tukar dan paritas daya beli: euro/yuan
Pada tahun 2012, 1 euro sebesar 8 yuan berdasarkan nilai tukar, tapi 5 yuan berdasarkan paritas daya beli.
Sumber dan seri: lihat piketty.pse.ens.fr/capital21c.

Karena ketidakpastian seputar nilai tukar dan paritas daya beli, rata-rata pendapatan per kapita bulanan yang dibahas sebelumnya (150-250 euro untuk negara yang paling miskin, 600-800 euro untuk negara yang sedang, dan 2.500-3.000 euro untuk negara yang paling kaya) harus dianggap sebagai perkiraan daripada sebagai kepastian matematis. Sebagai contoh, bagian negara-negara kaya (Uni Eropa, Amerika Serikat, Kanada, dan Jepang) pada pendapatan global adalah 46 persen pada tahun 2012 jika kita menggunakan paritas daya beli tapi 57 persen jika kita menggunakan nilai tukar saat ini. “Kebenaran”-nya mungkin terletak di antara dua gambaran ini dan mungkin lebih dekat dengan yang pertama. Tetap saja, besarannya tetap sama, seperti halnya fakta bahwa bagian negara-negara kaya secara stabil turun sejak tahun 1970. Terlepas dari pengukuran apa yang digunakan, dunia jelas memasuki tahap di mana negara kaya dan negara miskin konvergen dalam pendapatan. 

Distribusi Pendapatan Global Lebih Timpang Daripada Distribusi Keluaran
Untuk menyederhanakan eksposisinya, sejauh ini telah diasumsikan bahwa pendapatan nasional setiap benua atau regional sama dengan produk domestiknya: pendapatan bulanan dalam Tabel 1.1 diperoleh secara sederhana dengan mengurangi 10 persen dari PDB (untuk menghitung depresiasi modal) dan dibagi 12.
Faktanya, menyamakan pendapatan dan keluaran hanya valid pada tingkat global dan tidak pada tingkat nasional atau benua. Secara umum, distribusi pendapatan global lebih timpang daripada distribusi keluaran, karena negara-negara dengan keluaran per kapita tertinggi juga memiliki bagian atas modal di negara lain dan oleh karena itu menerima arus positif dari modal yang berasal dari negara-negara dengan tingkat keluaran per kapita lebih rendah. Dengan kata lain, negara-negara kaya itu kaya dua kali lipat: mereka lebih banyak memproduksi di rumah dan investasi di luar negeri, sehingga pendapatan nasional per kepala lebih tinggi daripada keluaran per kepala. Kebalikannya juga berlaku untuk negara-negara miskin.
Lebih spesifik, semua negara maju (Amerika Serikat, Jepang, Jerman, Prancis, dan Inggris) saat ini menikmati tingkat pendapatan nasional yang sedikit lebih besar dari produk domestik mereka. Seperti yang sudah disampaikan, bagaimanapun, pendapatan bersih dari luar negeri hanya sedikit positif dan tidak mengubah standar hidup di negara-negara ini secara radikal. Jumlahnya sekitar 1 atau 2 persen dari PDB di Amerika Serikat, Prancis, dan Inggris dan 2-3 persen dari PDB di Jepang dan Jerman. Hal ini merupakan dorongan yang signifikan untuk pendapatan nasional, terutama untuk Jepang dan Jerman, yang surplus perdagangannya memungkinkan mereka untuk mengakumulasi selama beberapa dekade cadangan substansial atas modal asing, yang pengembaliannya cukup besar saat ini.
Sekarang saya beralih dari negara-negara terkaya yang diambil secara individual ke blok benua yang diambil secara keseluruhan. Apa yang kita temukan di Eropa, Amerika, dan Asia mendekati ekuilibrium: negara-negara kaya di setiap blok (umumnya di utara) menerima arus positif dari pendapatan atas modal yang sebagian merupakan arus keluar dari negara lain (umumnya di selatan dan timur), sehingga pada tingkat benua, total pendapatan hampir sama dengan total keluaran, umumya 0,5 persen.
Satu-satunya yang tidak berada dalam ekuilibrium adalah Afrika, di mana bagian substansial atas modal dimiliki oleh asing. Berdasarkan data neraca pembayaran yang disusun sejak tahun 1970 oleh PBB dan organisasi internasional lainnya seperti Bank Dunia dan IMF, pendapatan Afrika kurang lebih 5 persen lebih rendah daripada keluaran benua (dan paling tinggi 10 persen lebih rendah dari negara-negara secara individual). Dengan pendapatan modal sekitar 30 persen, ini berarti hampir 20 persen modal Afrika dimiliki oleh asing: ingat pemegang saham tambang platinum Marikana yang dibahas di awal bab ini.
Penting untuk menyadari apa arti angka tersebut dalam praktik. Sejak beberapa jenis kekayaan (seperti perumahan real estate dan modal pertanian) jarang dimiliki oleh investor asing, itu berarti bahwa modal asing atas modal manufaktur Afrika dapat melebihi 40-50 persen dan mungkin lebih tinggi pada sektor lain. Terlepas dari kenyataan bahwa banyak ketidaksempurnaan dalam data neraca pembayaran, kepemilikan asing jelas merupakan kenyataan penting di Afrika saat ini.
Jika kita melihat masa lalu lebih jauh lagi, kita akan menemukan lebih banyak lagi ketidakseimbangan internasional. Pada saat menjelang Perang Dunia I, pendapatan nasional Inggris Raya, investor dunia, kurang lebih 10 persen di atas produk domestik. Rentangnya lebih dari 5 persen di Prancis, kekuasaan kolonial dan investor global nomor dua, dan Jerman adalah yang ketiga, karena dengan sektor industri yang sangat maju mengakumulasi klaim besar di seluruh dunia. Investasi Inggris, Prancis, dan Jerman ada di negara-negara Eropa lainnya dan Amerika Serikat dan sebagian di Asia dan Afrika. Secara keseluruhan, kekuasaan Eropa pada tahun 1913 memiliki sekitar sepertiga hingga setengah modal domestik Asia dan Afrika dan lebih dari tiga perempat modal industri mereka.

Kekuatan Apa yang Mendorong Konvergensi?
Secara teori, fakta bahwa negara-negara kaya memiliki modal di negara-negara miskin dapat memiliki efek yang baik dengan mempromosikan konvergensi. Jika negara-negara kaya begitu bersemangat dengan tabungan dan modal maka hanya sedikit alasan untuk membangun perumahan atau menambah mesin baru (dalam hal ini para ekonom mengatakan bahwa “produktivitas marginal atas modal”, yaitu, keluaran tambahan karena menambahkan satu unit modal baru “pada margin”, sangat rendah), ini dapat menjadi efisien secara kolektif untuk menginvestasikan sebagian tabungan domestik ke negara-negara luar negeri yang lebih miskin. Jadi negara-negara kaya – atau penduduk dari negara kaya – akan mendapatkan pengembalian atas investasi yang lebih baik dengan berinvestasi ke luar negeri, dan negara-negara miskin akan meningkatkan produktivitasnya sehingga menutup rentang antara mereka dengan negara-negara kaya. Berdasarkan teori ekonomi klasik, mekanisme ini, berdasarkan arus modal bebas dan pemerataan produktivitas marjinal atas modal pada tingkat global, pasti mengarah pada konvergensi negara-negara kaya dan miskin dan akhirnya mengurangi kesenjangan melalui kekuatan pasar dan persaingan.
Teori yang optimis ini memiliki dua kesalahan besar, bagaimanapun. Pertama, dari sudut pandang yang sangat logis, mekanisme pemerataan tidak menjamin konvergensi global pendapatan per kapita. Hanya bisa membuat konvergensi keluaran per kapita, dengan asumsi mobilitas modal sempurna dan, bahkan lebih penting, total kesetaraan tingkat keahlian dan modal manusia antar negara. Dalam banyak kasus, kemungkinan konvergensi per kepala tidak berarti konvergensi pendapatan per kepala. Setelah negara-negara kaya melakukan investasi di negara-negara tetangganya yang lebih miskin, mereka akan semakin memiliki negara-negara tersebut tanpa batas, dan memang bagian dari kepemilikannya dapat tumbuh dalam proporsi yang besar, sehingga pendapatan nasional per kapita di negara-negara kaya secara permanen lebih besar dari negara-negara miskin, yang harus terus membayar kepada asing atas apa yang dihasilkan oleh penduduknya (seperti yang dilakukan negara-negara Afrika selama beberapa dekade). Untuk menentukan seberapa besar kemungkinan situasi semacam ini muncul, kita harus membandingkan tingkat pengembalian atas modal yang harus dibayar oleh negara-negara miskin kepada negara-negara kaya dengan tingkat pertumbuhan ekonomi negara kaya dan negara miskin. Sebelum melanjutkan ke sini, kita sudah memiliki pemahaman yang lebih baik atas dinamika rasio modal/pendapatan dalam suatu negara tertentu.
Lebih jauh lagi, jika kita melihat catatan sejarah, tidak tampak bahwa mobilitas modal telah menjadi faktor utama yang mendorong konvergensi negara-negara kaya dan miskin. Tidak satu pun negara-negara Asia yang mendekati negara-negara maju di Barat dalam beberapa tahun terakhir mendapatkan manfaat dari investasi luar negeri yang besar, baik itu di Jepang, Korea Selatan, atau Taiwan dan belakangan ini Cina. Intinya, semua negara ini membiayai kebutuhan investasi dalam modal fisik dan, bahkan lebih banyak, dalam modal manusia, yang oleh riset terbaru dianggap memegang kunci pertumbuhan jangka panjang. Sebaliknya, negara-negara yang dimiliki oleh negara lain, baik pada periode kolonial maupun di Afrika saat ini, kurang berhasil, terutama karena mereka cenderung mengkhususkan diri pada bidang tanpa prospek pengembangan di masa depan dan karena mereka mengalami ketidakstabilan politik yang kronis.
Sebagian alasan atas ketidakstabilan tersebut adalah sebagai berikut. Ketika negara sebagian besar dimiliki oleh asing, ada permintaan sosial yang terus berulang untuk pengambilalihan. Aktor politik lain jika menanggapi investasi dan pengembangan hanya mungkin jika properti yang ada terlindungi secara tidak bersyarat. Negara ini terperangkap dalam pergantian terus-menerus antara pemerintahan revolusioner (yang sukses meningkatkan kondisi kehidupan aktual bagi rakyatnya seringkali hanya sedikit) dan pemerintah berdedikasi untuk perlindungan bagi pemilik properti yang ada, dengan demikian membuka peluang untuk revolusi atau kudeta selanjutnya. Kesenjangan kepemilikan modal sendiri sudah sangat sulit untuk diterima dan berlangsung secara damai dalam satu komunitas nasional. Secara internasional, hampir tidak mungkin untuk mempertahankannya tanpa dominasi politik kolonial.
Jangan salah: partisipasi dalam ekonomi global tidak negatif. Autarki tidak pernah mempromosikan kemakmuran. Negara-negara Asia yang belakangan ini mengejar seluruh dunia telah mendapatkan manfaat yang jelas dari keterbukaan atas pengaruh asing. Tapi mereka mendapatkan manfaat lebih besar dari membuka pasar untuk barang dan jasa dan syarat-syarat perdagangan yang lebih menguntungkan daripada arus modal bebas. Cina, misalnya, masih memaksakan kontrol terhadap modal: asing tidak bisa investasi ke dalam negeri dengan bebas, tetapi itu tidak menghambat akumulasi modal, untuk tabungan domestik yang cukup besar. Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan semua investasi keuangan diperoleh dari tabungan. Banyak juga studi yang menunjukkan bahwa keuntungan dari perdagangan bebas terutama datang dari difusi pengetahuan dan dari keuntungan produktivitas yang diperlukan dengan membuka batas, bukan dari keuntungan statis atas spesialisasi, yang tampak cukup sederhana.
Singkatnya, pengalaman sejarah menunjukkan bahwa mekanisme utama untuk konvergensi di tingkat internasional maupun domestik adalah difusi pengetahuan. Dengan kata lain, negara yang miskin mengejar yang kaya untuk mencapai tingkat pengetahuan, keahlian, dan pendidikan yang sama, bukan dengan menjadi properti bagi negara kaya. Difusi pengetahuan tidak seperti roti manna dari surga: sering disebut sebagai keterbukaan dan perdagangan internasional (autarki tidak mendorong transfer teknologi). Di atas semuanya, difusi pengetahuan tergantung pada kemampuan suatu negara untuk memobilisasi pembiayaan dan institusi yang mendorong investasi dalam skala besar dalam pendidikan dan pelatihan populasi sambil menjamin kerangka kerja hukum yang stabil yang dapat diandalkan oleh berbagai aktor ekonomi. Oleh sebab itu, terkait erat dengan pencapaian pemerintah yang sah dan efisien. Singkat kata, ini adalah pelajaran utama yang harus diajarkan sejarah tentang pertumbuhan global dan kesenjangan internasional.